Setelah satu tahun Nefi dan Moka menjadi satu rekan dalam kerja, Nefi terkejut akan sesuatu. Kejadian itu terjadi di saat Nefi ingin pulang saat itu langit sedang hujan deras Nefi berada di taman rumah sakit duduk di salah satu bangku taman sembari hujan-hujanan karena itu adalah niatnya sendiri hingga Nefi melihat Moka berjalan menuju ke arahnya membawa payung yang cukup besar dan duduk di sebelah Nefi.
“Kamu sengaja hujan-hujanan?” Tanya Moka
“Iya dan ini menyenangkan” Jawab Nefi
“Aku baru tahu kamu suka hujan”
“Iya”
Mereka berdua terdiam Moka menawarkan payungnya tetapi ditolak Nefi karena Nefi tidak mau.
“Nef aku boleh ngomong sesuatu ke kamu?”
“Boleh” kata Nefi masih menatap langit.
“Nef sebenarnya dari awal kamu selamatin aku, aku langsung ada perasaan sama kamu hingga sekarang”
Nefi sudah terbiasa mendengarkan pengakuan perasaan seseorang tapi dia tahu semua orang itu hanya menyukai wajah cantiknya, benar selain sukses dia juga memiliki paras dan wajah yang cantik hanya saja yang kurang darinya adalah bahwa DIRINYA MEMBENCI YANG NAMANYA CINTA.
“Sejujurnya Moka aku tidak mempercayainya” Jawab Nefi santai
“Aku tahu, aku juga tahu kamu juga membenci yang Namanya cinta tapi percayalah aku benar-benar mengalaminya untukmu”
Mendengar itu Nefi sedikit kesal karena bisa-bisanya ada orang berbicara seperti ini kepadanya saat dia melakukan hal yang disukainya yaitu hujan-hujanan.
“Aku tidak tahu moka sebenarnya aku tidak mau kamu menyia-nyiakan hal seperti itu untukku”









