Porostimur.com, Ambon – Sabtu, 17 Februari 1674, tercatat sebagai salah satu hari paling kelam dalam sejarah Ambon. Pada hari itu, gempa bumi dahsyat disertai tsunami raksasa menghantam pulau tersebut dan menewaskan ribuan orang.
Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek yang saat itu tengah berlangsung meriah. Namun suasana perayaan berubah menjadi kepanikan ketika gempa kuat mengguncang seluruh wilayah Ambon dan pulau-pulau sekitarnya.
Getaran gempa dilaporkan begitu hebat hingga lonceng-lonceng di Benteng Victoria bergoyang. Tanah terasa bergerak seperti gelombang laut, membuat banyak orang yang berdiri terjatuh.
Gempa Dahsyat Disusul Tsunami Raksasa
Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa dampak gempa saat itu tidak hanya berupa guncangan kuat, tetapi juga memicu tsunami besar di pesisir utara Pulau Ambon.
“Kekuatan gempa juga telah mengakibatkan tsunami yang dahsyat utamanya di pesisir utara Pulau Ambon,” kata Nelly dalam webinar peringatan Tsunami Ambon 1674 pada Februari 2025, seperti dikutip dari situs BMKG.
Wilayah utara Semenanjung Hitu menjadi kawasan yang mengalami kerusakan paling parah. Di daerah Seit, antara Negeri Lima dan Hila, air laut dilaporkan naik hingga 90–110 meter. Sementara sejumlah catatan lain menyebut tinggi gelombang tsunami mencapai sekitar 80 meter.









