Hari ke-20 Gencatan Senjata; Saat Duo-Adidaya Takluk pada Keteguhan Iran

oleh -56 views

Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta

Ini soal keteguhan sebuah bangsa atau bangsa yang teguh, dan bukan keras kepala. Sebab teguh (pendirian) itu didasari prinsip, logika, dan terbuka pada dialog, sedangkan keras kepala didasari ego, menolak saran, dan kaku meski salah. Jelas kan perbedaannya?

Ada nasehat lama yang sering dilupakan oleh mereka yang merasa dirinya perkasa: “Jangan pernah membangun istana pasir di tepi pantai saat pasang datang.” Dan, kini kita menyaksikan dengan mata telanjang; Washington dan Tel Aviv—duo adidaya yang terbiasa mendikte dunia—tercengang melihat istana pasirnya tersapu ombak.

Misi “4 Pekan Menaklukkan Iran”, rata dengan tanah. Disapu ombak “strategis” Teheran. Ini bukan sekadar kekalahan militer; ini adalah keruntuhan harga diri, sebuah antitesis dari arogansi yang selama 47 tahun berusaha mencekik Iran, namun justru membuat mereka semakin kokoh seperti batu karang.

Bayangkan, dengan percaya diri, AS dan Israel merancang rencana kilat. Targetnya jelas: ganti rezim (regime change). Misi pelucutan rudal balistik, pencurian Uranium di Isfahan, hingga memaksa Iran membuang kekayaan nuklirnya ke luar negeri. Apakah hasilnya? Jawab sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.