Mungkin hanya sebuah lagu, apa lah artinya. Tetapi jangan salah juga, pilihan lagu seringkali mewakili suasana hati. Terlebih bagi Generasi Z yang menjadikan media sosial selayaknya dunia riil. Dalam hal mengumbar pengalaman personalnya di medsos, Gen Z bahkan lebih eksplosif dibanding generasi sebelumnya. Kadang nyaris tanpa saringan; bahagia, sedih, marah, hingga pengalaman cintanya bisa dengan mudah ditumpahkan di story WA dan instagram, atau bahkan jadi postingan reel dan tiktok. Belum lagi dengan puisi pendek hingga quote-quote tentang cinta dan penderitaan yang rajin mereka repost.
Lebih jauh, kalau lagu-lagu bertema getir sedemikian mudah viral, maka ada kemungkinan bahwa fenomena ini juga menggambarkan kualitas mental Gen Z yang rapuh. Generasi ini memang lekat dengan teknologi, kreatif, berpikiran terbuka, melek literasi finansial dan terkoneksi global, tetapi juga sekaligus lekat dengan budaya instan. Mungkin karena instanisasi ini pula, mental Gen Z cenderung rapuh ketika dihadapkan dengan beratnya dunia nyata. Beberapa ahli juga membaui gejala ini, bahwa Gen Z memiliki kerentanan mental yang tinggi, sehingga mudah depresi pula. Dari urusan pertemanan, percintaan, bisnis, hingga dunia kerja. Tak heran, konsep healing amat populer bagi generasi ini, meski maknanya sering direduksi menjadi aktivitas liburan dan menyendiri. Konon, generasi Z juga rela menghabiskan banyak uang untuk liburan. Siapakah yang butuh healing? Tentu saja siapapun yang sedang tertekan batinnya. Bisa Anda, Saya, ya Kita semua.








