Disaat kaum muslimin berkumpul di Mina di Arafah, tidak lagi ada di bedakan kedudukan ataupun hasta, tidak dibedakan apakah dia kaya raya, apakah dia seorang pejabat atau pemimpin? Semua sama dihadapan Allah karena memang tidak ada yang kebal hukum dihadapan Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.Semuanya sama!
Kewajiban seorang hamba untuk melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah Islam! Kemudian mereka bertalbiyah yang merupakan kalimat yang agung. Mereka berucapan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak(Ya Allah, aku menyahut panggilanmu Ya Allah. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagiMu. Tidak ada sekutu bagi Engkau ya Allah)”
Sebuah kalimat yang agung, yang menunjukkan pengesaan dan bahwasannya tidak ada sekutu bagi Allah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu pengakuan bahwasanya kenikmatan semua milik Allah.
Karunia semua milik Allah. Itulah hakikat sebagai seorang hamba. Dia mengakui bahwa semua yang ia miliki bahkan tubuhnya, semua hartanya, anaknya, istrinya, semuanya milik Allah, karunia dari Allah. Dia mengakui semua itu milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.









