Kurban

oleh -206 views

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

ANDAI Allah tak menguji iman Nabi Ibrahim dengan memintanya untuk menyembelih Ismail, puteranya semata wayangnya bersama Siti Hajar, apakah kita akan melakoni ritual berkurban seperti saat ini?.

Dalam Alquran sebenarnya banyak kejadian atau perintah yang diberikan Allah untuk menguji kadar keimanan hambaNya, tetapi kita tak pernah bertanya mengapa momen “pengorbanan” Ibrahim dan Ismail yang terpilih. Menurut saya, karena peristiwa ini adalah realitas yang sangat menyentuh dimensi kemanusiaan. Allah memberi contoh yang nyata. Bukan sesuatu yang ghaib. Bukan juga ritual yang “enigmatis” seperti perintah berpuasa dalam bulan Ramadhan.

Enigmatis disini karena Allah memberi batas yang banal jika ibadah itu adalah milikNya. “Puasa untukKu”. Meski ratingnya sangat tinggi tetapi kita bahkan tak tahu nilai yang kita peroleh selain keyakinan bahwa Allah akan menilai dengan semua otoritas absolut yang dimilikiNya. Ada dimensi illahiyah yang tak terbantahkan. Berpuasa itu sesuatu yang personal.

Berbeda dengan perintah berkurban. Ada dimensi sosial yang ingin diuji. Apakah kita lebih terpesona dengan nikmat duniawi – harta, tahta, anak, kekuasaan – dan melupakan jika hidup bukan semata tentang kenikmatan tanpa batas. Apakah hati kita telah bebas dari prasangka dan kebencian. Memiliki kesalihan sosial yang transedental. Apakah kita selalu siap untuk “pulang” kapan saja.

No More Posts Available.

No more pages to load.