Oleh: Hamid Basyaib, Aktivis dan mantan wartawan
Sangat sedikit intelektual Indonesia seperti Ignas Kleden. Ia tak pernah mau berkompromi dalam soal kualitas ide dan kesungguhan dalam menghadapi masalah. Mungkin ini sebabnya ia tak pernah tampil di acara talk show televisi — sebuah medium komunikasi yang tekun memerosotkan mutu percakapan intelektual, selain mengumbar kedangkalan kultural tanpa putus melalui acara-acara hiburan yang keburukannya sulit dipercaya.
Ia meminati percakapan intelektual sejak masih belia, sejak ia, dari kampungnya di Waibalun, Nusa Tenggara Timur, memandangi orang-orang pintar Jakarta menyajikan ide-ide mereka atau berpolemik di media massa. Ia menikmati semua itu dari perpustakaan yang baik di seminari Larantuka, yang selalu menerima kiriman edisi terbaru majalah apapun. Ia menawarkan diri untuk bekerja di sana, supaya bisa menikmati bahan bacaan yang melimpah.
Ia menerjemahkan teks-teks berbahasa Inggris (atau Jerman) untuk Nusa Indah, sebuah penerbit yang komited menerbitkan buku-buku bermutu, menerapkan standar intelektual para pastur pembinanya.
“Saya membicarakan mereka (para intelektual Jakarta) seolah-olah saya mengenal mereka secara pribadi,” katanya, tersenyum geli, mengenang sikap “sok tahu”nya. Dan ia pun berani menyodorkan ide-idenya sendiri di forum media ibukota, bersanding dengan nama-nama besar seperti Asrul Sani atau Wiratmo Sukito. Waktu itu ia baru awal 20an, dan menulis kolom-kolom yang bagus di mingguan Tempo atau bulanan Budaya Jaya.









