Songongnomic

oleh -3 Dilihat
Isa Ansori

Oleh: Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi, Tinggal di Surabaya

Debat capres dan cawapres sejatinya debat menguji gagasan masing – masing calon. Debat ini bukan cerdas cermat yang hanya berkutat pada pertanyaan dan kemudian ada jawaban. Tapi bagaimana gagasan calon dan bagaimana pertanyaan calon menjadi penting, karena disitulah sejatinya terlihat bagaimana kualitas sang calon.

Dalam pertarungan gagasan kita pernah mengenal istilah istilah yang menggunakan kata nomic yang berarti sebuah pandangan dan gagasan yang mengikuti kiprah yang bersumber gagasan seseorang dan biasanya bersifat positif dan menginspirasi. Misalkan adanya paham ” Hattanomic “, sebuah pandangan ekonomi yang dilahirkan oleh Moh Hatta. Ada juga Habibienomic, sebuah pandangan gagasan pembangunan yang dilahirkan oleh Habibie, ada juga Aniesnomic, Slepetnomic, sebuah gagasan positif yang mewakili nama pemilik gagasan.

Baca Juga  Real Madrid vs Inter Milan: Misi Mourinho Rebut Mahkota Eropa Dimulai di Bernabeu

Nah dalam debat cawapres yang berlangsung, Minggu, 21 Januari 2024 yang lalu, ada sebuah model debat yang dilakukan oleh salah satu cawapres muda, Gibran yang menampilkan gaya songong, slengekan, terbuka tanpa tedeng aling aling, namun kehilangan norma dan substantif perdebatan. Asal serang, asal bisa menjatuhkan lawan, asal jawab tanpa mempedulikan benar apa salah, yang penting lakukan dulu. Sebuah gaya debat liar dan tak memenuhi standar kualitas debat calon presiden dan wakil presiden. Gibran menampilkan gaya songong dan sesukanya. Gaya itulah lebih tepat disebut sebagai “Songongnomic”, sebuah gaya debat, dialog yang asal serang, asal jawab, kehilangan substansi pertanyaan dan jawaban, yang penting lawan bisa dikalahkan. Sebuah gaya Machiavillian yang menghalalkan segala cara, yang penting menang.

No More Posts Available.

No more pages to load.