“In Prabowo We Trust” dan Nasib Bangsa Kedepan

oleh -481 views
Syahganda Nainggolan

Ketiga, SBY ingin menunjukkan bahwa dirinya mem back up total Prabowo sebagai manusia selevel Tuhan. Hal ini menunjukkan adanya kesan “jilat menjilat” dalam politik bagi-bagi kekuasaan. Sebuah penurunan makna kekuasaan untuk rakyat.

Luka Rakyat dan Perubahan

Kemenangan Prabowo dengan proses pilpres curang saat ini dipersoalkan di Mahkamah Konstitusi. Tapi, apapun hasilnya, luka rakyat atas kecurangan itu bukan masalah kuantitatif yang bisa dihitung sebagai residu. Kemarahan rakyat telah bergelombang besar, khususnya dari kalangan kampus, sebagai pusat moral bangsa kita.

Dalam kondisi “power to power conflict” atau keterbelahan rakyat saat ini, SBY meyakini, dalam pidatonya kemarin, bahwa Prabowo adalah pemimpin besar selevel Tuhan yang mampu membawa perbaikan. Perbaikan itu termasuk membuat pemilu yang bersih ke depan. Namun, SBY tidak menyinggung bahwa ada luka saat ini dihati rakyat. SBY juga tidak menyinggung bagaimana bisa membuat pemilu bersih dari kepemimpinan pemilu curang?

Padahal, dalam teori rekonsiliasi konflik, di mana SBY terlibat dalam penyelesaian konflik Ambon, Aceh, Poso dan lainnya di masa lalu, penyelesaian sebuah konflik sosial harus dimulai dengan sebuah pengakuan adanya rakyat terluka. Adanya kecurangan dan manipulasi pilpres. Bukan sok menang sendiri. Sok menang sendiri atau merasa paling benar, bahkan hanya akan memendam dendam yang berkepanjangan.

No More Posts Available.

No more pages to load.