Respons Trauma dan Tantangan Pengelolaannya
Ketika dipicu oleh kedekatan atau konflik, individu dengan gaya keterikatan menghindar-menolak menunjukkan “respons melarikan diri tingkat satu, dan respons membeku tingkat dua.” Ini adalah reaksi trauma yang membuat mereka sulit untuk terlibat secara konstruktif dalam penyelesaian masalah. Kebanyakan orang kesulitan menavigasi respons trauma mereka dengan keterampilan koping yang sehat, apalagi jika luka mereka diaktifkan oleh situasi intim atau konflik.
Bagi orang yang lukanya diaktifkan oleh kedekatan dan konflik, “mengabaikan” respons tersebut terasa mustahil. Mereka mungkin menarik diri, menjadi dingin, atau menghindari percakapan penting. Ini seringkali disalahartikan sebagai ketidakpedulian atau kurangnya keinginan, padahal sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang dipicu oleh trauma masa lalu.
Penting untuk diingat bahwa orang dalam situasi ini perlu “mendapatkan alat untuk mengatur respons trauma mereka dan mempelajari perilaku yang aman dan sehat.” Tanpa alat yang tepat, mereka akan terus terjebak dalam pola yang merusak. Mengembangkan keterampilan koping yang efektif adalah kunci untuk memutus siklus respons trauma ini dan membangun hubungan yang lebih stabil.
Pentingnya Alat dan Penyembuhan Trauma untuk Hubungan yang Sehat
Masyarakat cenderung menilai respons menghindar-menolak lebih buruk daripada respons pertarungan (fight response). Respons pertarungan adalah “respons trauma di mana orang akan… berteriak dan menjerit dan melempar barang dan menjadi agresif secara verbal dan bahkan terkadang agresif secara fisik.” Namun, Dr. Hensley menegaskan bahwa “semua keterikatan yang tidak aman memiliki respons trauma yang tidak produktif dalam hubungan.”









