Inul

oleh -4 Dilihat

Inul berubah dari warga kampung jadi pesohor papan alias selebrita. Kemunculannya tak didukung media sosial karena di tahun 2003, medsos belum jadi teman hidup warga. Inul “menjual” dirinya dengar karya yang diterima orang banyak.

Ia menolak terkungkung budaya dangdut tradisional dan terus mengikuti zaman yang berubah. Ia kini lebih mirip sosialita, bukan sekedar selebrita. Seorang
pesohor atau selebrita sering terasing di hadapan cerminnya.

Ia tak lagi sendiri di ruang privat. Selalu Ia hadir lewat seperangkat alat pengganti cermin seperti kamera, perekam suara atau catatan seorang jurnalis. Alat alat ini mewakili dirinya untuk ditatap oleh mereka yang selalu ingin Ia hadir.

Baca Juga  Polda Maluku Luruskan Peristiwa Maut di Tual: Bukan Bentrokan Antarkelompok

Selebrita merangkul dengan bayangan, memastikan pengagumnya tak berpaling. Bahkan cenderung memastikan kebenaran dirinya tak diragukan.

Henri Kissinger, Menteri Luar Negeri AS yang smart dan mirip selebrita memberi pengakuan, “Yang menyenangkan ketika jadi selebrita adalah bila kita membosankan banyak orang, orang banyak itu menganggap itu gara gara kesalahan mereka sendiri”. Inul sang dewi dangdut mungkin membenarkan ini. Begitu juga para politisi yang dalam kesehariannya mirip selebrita.

Butuh kamera, butuh rekaman visual dan juga catatan berita. Mereka butuh panggung untuk menyodorkan nama. Nama adalah identitas yang bisa diganti untuk jadi akrab, tanda cinta, penegasan status sosial, media pemyamaran ataupun sekedar penanda biar mudah diingat.