Celoteh tentang Rumus Berita

Penulis: Herman Syahara Sastramiharja, Penulis dan Jurnalis

KITA jangan hanya meliput, tapi juga harus menyetir berita.”


Begitulah kurang lebih perintah boss tv berita Fox News, Roger Ailes, dalam film The Loudest Voice yang hari-hari ini sedang diputar berulang di saluran FOX pada penyelenggara tv kabel berbayar Vision.


Ucapan bos Fox News Roger Ailes, yang diperankan dengan penuh watak oleh bintang Russell Crowe pada miniseri yang konon diangkat dari kisah nyata sepak terjang pendiri CEO Fox News Roger Ailes itu, berfokus pada siasat dan trik pemberitaan.

Roger mengatur Gedung Putih dan inner circle-nya untuk percaya bahwa Presiden Irak Saddam Husssein adalah teroris musuh Amerika yang harus dilenyapkan karena memiliki senjata kimia pemusnah massal.

Namun, sampai kini, kisah senjata pemusnah massal menjadi pro dan kontra karena tidak ditemukan bukti keberadaannya.

Film yang saya kisahkan di atas adalah satu hal. Apa yang akan saya ceritakan berikut ini adalah hal lain. Kesamaannya, mungkin hanya ada pada bagaiamana perusahaan pers bekerja.

Dalam penerbitan pers ada kita kenal istilah cover both sides. Ini merupakan landasan etik untuk berlaku adil terhadap semua pihak yang menjadi objek berita sehingga tidak ada yang merasa dizalimi karena suatu pemberitaan).

Pegangan etik insan pers lainnya adalah KEJ (kode etik jurnalistik) yang mengatur antara lain bagaimana laku jurnalis saat mengumpulkan bahan berita di lapangan sampai menyajikannya di media.

Namun, dengan berpegang pada landasan etis di atas, dalam kebijakan internal redaksional sebuah media cetak, ada juga bermacam cara atau “trik” untuk menulis berita yang mengkritisi (atau mengapresiasi) seseorang atau tokoh yang berkaitan dengan kebijakan publiknya.

Penerapan kebijakan ini tentu sangat diwarnai oleh kepentingan media tersebut pada si tokoh dan kebijakan publiknya itu.

Sewaktu bekerja di sebuah suratkabar harian di tahun 90-an, saya dan teman-teman awak redaksi pernah mendapat arahan dari pimpinan untuk menerapakan “rumus” kapan sebuah berita harus mengapresiasi dan kapan harus mengkritisi dalam suatu periode atau edisi pemberitaan.

Caranya dengan rumus 1:2 (1 kali berita mengkritisi dan 2 kali berita mengapresiasi). Atau sebaliknya, 2 kali berita mengapresiasi dan 1 kali mengkritisi.

Tentu angka perbandingan ini disesuikan dengan kebutuhan redaksi atau pemilik media. Biasanya, penerapannya lebih banyak dilakukan pada liputan berita headline atau berita utama yang isuenya dikembangkan sesuai agenda redaksi.

Namun zaman bergerak, waktu berlalu, dan tentu kebijakan pun berubah. Saya tak tahu lagi bagaimana “trik” atau kebijakan media cetak surakbabar harian sekarang.

Saya juga tak tahu bagaimana kebijakan redaksional Majalah Berita Mingguan Tempo yang sedang viral itu.

Setelah beberapa kali pemberitaan cover story-nya yang terasa menimang dan mengapresiasi Jokowi sampai naik ke kursi RI 1, lalu kemudian memicu pro kontra setelah karena pada cover edisi terbarunya pekan ini beraroma mengkritisi Sang Presiden.

Rasanya, baik pada edisi Tempo mengapresiasi pada edisi terdahulu atau mengkrirtisi pada edisi terbaru, pro kontra dari dua (atau lebih) kelompok berbeda kepentingan, ada dan terasa.

Kalau saya sih masih tetap (berusaha) percaya, bahwa semua pemberitaan Tempo tentang Jokowi –baik yang edisi menimang, mengapresiasi, dan mengkritisi, masih ada dalam koridor cover both sides dan kode etik jurnalistik.

Oleh karena itu, kepada kedua kelompok berbeda, saya juga (berusaha) menyarankan, Tempo tak perlu terlalu dipuji sebagai “baru tersadar”. Tak perlu juga dimusuhi sebagai telah menghina Presiden.

Apalagi sampai ada yang menjadikannya sebagai perkara pelanggaran hukum. Karena, ini perkara biasa dalam kerja sebuah media. Ada saat menimang, mengapresiasi, dan mengkritisi.

Saya juga (berusaha) berpendapat, Tempo masih (agak) enak dibaca dan (cukup) perlu dibanding Tempo sebelum dibredel dulu.

Lalu, adakah boss media yang mempraktikkan “kita jangan hanya meliput, tapi juga harus menyetir berita”, sebagaimana ucapan Roger Ailes di awal celotehan ini?

Anda pasti lebih paham. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: