Inul

oleh -107 views
Link Banner

Penulis: Asghar Saleh, Pemerhati Sosial Politii dan Pegiat LSM

Setiap kata ini terucap, imajinasi liar kita pasti berkelindan dengan goyangan perempuan dilatari lagu dangdut yang menghentak.

Inul Daratista memang fenomena. Ia mendobrak tradisi dangdut yang mendayu sedih. Lagunya energik dan goyangnya bergairah. Asal mula direkam amatir di pentas desa, CDnya tak bagus. Tetapi isinya beda dan langsung disukai. Dari harga Rp. 3500 per keping, CDnya yang berisi goyang ngebor langsung jadi hits.

Dimana mana, kenduri atau pesta jadi tak sah jika tak ada lagu Inul. Semua meniru goyang ngebornya. NU dan Muhammadiyah melarang tapi dara bernama asli Ainur Rohimah ini tak terbendung. Inul jadi pembeda. Laris manis tak tertandingi.

Semula hanya ngetop di Jawa Timur, lalu merambah Jakarta dan Indonesia hingga Papua. Goyang Inul bahkan diekspor karena Ia berkali kali diundang mentas di mancanegara. Indonesia dapat promosi gratis dan dangdut naik kelas.

Sadar, tak selamanya di puncak, dara Pasuruan ini mulai merambah bisnis. Berbagai usaha dilakoni. Yang teringat di benak kita adalah penanda sebuah kota dianggap “maju” jika punya karaoke Inul. Tak terkecuali di Ternate. Branding ini sejajar dengan rumah makan siap saji seperti Mc Donnald dan Kentucy Fried Chiken.

Inul berubah dari warga kampung jadi pesohor papan alias selebrita. Kemunculannya tak didukung media sosial karena di tahun 2003, medsos belum jadi teman hidup warga. Inul “menjual” dirinya dengar karya yang diterima orang banyak.

Ia menolak terkungkung budaya dangdut tradisional dan terus mengikuti zaman yang berubah. Ia kini lebih mirip sosialita, bukan sekedar selebrita. Seorang
pesohor atau selebrita sering terasing di hadapan cerminnya.

Ia tak lagi sendiri di ruang privat. Selalu Ia hadir lewat seperangkat alat pengganti cermin seperti kamera, perekam suara atau catatan seorang jurnalis. Alat alat ini mewakili dirinya untuk ditatap oleh mereka yang selalu ingin Ia hadir.

Selebrita merangkul dengan bayangan, memastikan pengagumnya tak berpaling. Bahkan cenderung memastikan kebenaran dirinya tak diragukan.

Henri Kissinger, Menteri Luar Negeri AS yang smart dan mirip selebrita memberi pengakuan, “Yang menyenangkan ketika jadi selebrita adalah bila kita membosankan banyak orang, orang banyak itu menganggap itu gara gara kesalahan mereka sendiri”. Inul sang dewi dangdut mungkin membenarkan ini. Begitu juga para politisi yang dalam kesehariannya mirip selebrita.

Baca Juga  Pemda Akan Naikkan Tarif PBB, Bapemperda DPRD Kepulauan Sula Belum Tahu

Butuh kamera, butuh rekaman visual dan juga catatan berita. Mereka butuh panggung untuk menyodorkan nama. Nama adalah identitas yang bisa diganti untuk jadi akrab, tanda cinta, penegasan status sosial, media pemyamaran ataupun sekedar penanda biar mudah diingat.

Konon ada tanya, apa yang akan dilakukan Konghucu jika Ia dipercaya memerintah sebuah negeri? Jawabnya membereskan nama nama. Langkah ini sangat penting terutama dalam kehidupan sosial politik. Nama sebagai penanda harus tertib karena Ia jadi pembeda.


Makanya saya berhenti menulis Inul Daratista dan goyang ngebornya karena ini tentang Inul yang sungguh beda. Inul ini bukan selebrita atau pesohor.

Ia – meminjam pengakuannya – lewat direct mesengger hanya seorang “anak pulau”. Tapi pilihannya datang ke gedung
tempat para wakil rakyat berkantor siang tadi dengan menggunakan mobil penumpang – sebuah mikrolet berwarna biru sama seperti warna kebesaran partainya – membuat heboh.

Bagaimana tidak? Saat sesama rekannya datang untuk dilantik sebagai anggota DPRD Ternate masa bakti 2019 – 2024 dengan mobil bagus mulus berkaca hitam pekat, lelaki ini justru turun dengan santai dari sebuah mobil penumpang reguler.

Saya sangat kenal Inul yang satu ini. Namanya Zaenul Rahman, anak asli Ternate dan bermukim di Taduma, sebuah kelurahan sekitar 25 km dari pusat kota Ternate.

Saya yakin Inul tak sedang membuat sensasi. Ia apa adanya seperti yang saya kenal bertahun lalu ketika sama sama berkiprah di KNPI Ternate. Selalu sederhana. Inul juga tak berharap jadi
perbincangan.

Ketika saya tanya mengapa naik angkot? Ia lugas menjawab, cuma itu pilihannya. Jujur dan bersahaya. Saya membayangkan seandainya aturan etik tak mengharuskan dirinya berjas dan berdasi, mungkin saja Ia akan datang menghadiri pelantikan itu dengan pakaian seadanya yang pantas.

Fenomena Inul memberi harapan, jika politisi tak sepenuhnya harus jadi selebritas. Ia memulai pengabdiannya dengan “dunianya” yang jujur apa adanya dan terbatas Tak perlu bergaya dan menjadi orang lain.

Baca Juga  Zulfahri Abdullah Bangun Skill Kaum Muda Menjadi Garda Terkuat dalam Konstelasi Ekonomi

Inul sedikit banyak beda dengan “kawan kawannya” yang memilih merayakan pelantikan mereka dengan tenda dan kegembiraan. Bagi saya dan bisa jadi ini agak kuno, pelantikan ini patut disyukuri tetapi tidak dengan perayaan yang berlebihan.

Mengapa? Ini bukan akhir tetapi hari pertama memulai tugas. Ibarat perang, medannya belum ketahuan, bisa jadi ada banyak jebakan, tipu daya, pujian yang absurd, caci maki, atau bahkan penghormatan.

Lebih baik memulai dengan ikhtiar. Jika lima tahun besok sukses dalam melayani, anda akan dikenang dengan indah. Pada moment itulah perayaan sukses jadi lumrah dipestakan.

Medan tugas ini adalah Ternate, sebuah kota pulau yang padat dan genit. Di kota ini, batas antara yang diwakili dan mewakili teramat tipis. Tak ada pagar kawat berduri. Apalagi saat kemajuan IT menawarkan kecepatan, keharusan berjejaring dan inovasi tanpa henti berlabel kreatifitas. Butuh banyak “turun ke bawah dan mendengar”.

Apalagi Ternate dalam bacaan statistik bisa menjebak. Pertumbuhan ekonomi kita rata rata di atas 7 persen, Indeks Pembangunan Manusia tertinggi di Maluku Utara, infrastruktur mapan, layanan sosial tersedia.

Tetapi dibalik itu, jumlah warga miskin masih banyak, yang belum kerja juga tak sedikit. Ekonomi tumbuh pesat tetapi seperti lomba panjat pinang, hanya segelintir yang bisa ke puncak yang menikmati tumbuh pesat itu.

Sekolah banyak, bangunannya megah tetapi standard mutu kita kalah dari Tidore dan Halmahera Barat. Sebaran penyakit menular juga makin meningkat. HIV dan AIDS misalnya mendekati 500 kasus.

Tragisnya kebanyakan adalah Ibu Rumah Tangga. Soal sosial lainnya yang tak kalah pelik adalah makin maraknya peredaran dan pemakaian Narkoba.

Sungguh semua itu butuh sentuhan midas para wakil rakyat. Tak hanya soal pengawasan tetapi juga soal porsi. Berapa banyak budget untuk pembangunan dan pelayanan publik?. Belum lagi soal kewajiban membuat regulasi.

Sepajang lima tahun periode sebelumnya, ada 87 peraturan daerah yang dibahas dan disahkan. 11 diantaranya adalah perda inisiatif dari DPRD.

Lumayan banyak jika berhitung jumlahnya. Tapi fokus kita bukan pada banyaknya saja, lebih pada seberapa banyak peraturan daerah itu berdampak positif bagi kemaslahatan orang ramai.

Baca Juga  PT MSM Marathon Bantu Korban Bencana di Sulut

Reinhold Niebuhr, seorang teolog yang detil meneliti hubungan iman dan politik menyebut, tugas politik termasuk mereka yang terlibat di dalamnya bukan cuma sebatas usaha menghimpun dan menggunakan kekuasaan.

Politik adalah pergulatan untuk keadilan atau kesetaraan yang berlangsung terus menerus.

Vaclav Havel, Presiden Ceko yang mati dalam sunyi tetapi terus dirindukan rakyatnya menyebut, politik dan para pelakunya – politisi – harus melaksanakan tanggung jawab yang lebih tinggi melalui tindakan.

Tindakan itu harus ditujukan kepada “keseluruhan”. Dengan kata lain, politik adalah pergulatan bukan untuk diri sendiri.

Dalam framming ini, saya sungguh bahagia ketika Inul secara jujur menyebut bahwa dirinya sungguh ingin belajar untuk mendengar dan melayani.

Ketika saya tanya, apa yang akan dibuat?. Ia menjawab, sebagai “anak pulau” dirinya ingin merubah pandangan banyak orang bahwa pembangunan tak hanya diukur dari banyaknya pasir dan semen (infrastruktur). Pembangunan adalah proses untuk mensejahterakan rakyat.

Karena itu sejatinya rakyatlah yang diberdayakan melalui program ekonomi kreatif dan pengembangan pariwisata yang mandiri. Mengurangi hal yang sifatnya fisicily.

Saya menaruh harap, konsistensi berjuang untuk rakyat adalah pilihan yang ditegaskan dalam laku. Dewan periode ini kabarnya menolak Pin Emas sebagai simbol keanggotaan mereka yang disebut dengan “yang terhormat”.

Respect saya dengan sikap itu, meski tak mereduksi kecemasan publik bahwa lima tahun lalu, 56 Milyar lebih dana dipakai untuk jalan jalan keluar daerah. Cemas itu masih ada karena entah berapa milyar lagi untuk lima tahun nanti.

Untuk Inul dan kawan kawan yang terhormat, saya percaya integritas akan jadi pemenang. Dan dipundak kalianlah nasib Kota ini lima tahun nanti dipertaruhkan.

Maju bersama atau berdiam di tempat dan menunggu. Warna kotanya bisa merah, hitam, gelap, ada pelangi atau cerah dan penuh optimisme. Kawan kawan yang terhormatlah yang menentukan warna itu.

Sebagai pengingat sebelum memulai layanan pengabdian, ada baiknya mendengar celoteh Iwan Fals yang sering diputar di jalanan oleh mereka yang tak puas. “wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat”..

Selamat bertugas Kawan Kawan yang terhormat.

Taduma, 16/09/19