Penulis: Asghar Saleh, Pemerhati Sosial Politii dan Pegiat LSM
Setiap kata ini terucap, imajinasi liar kita pasti berkelindan dengan goyangan perempuan dilatari lagu dangdut yang menghentak.
Inul Daratista memang fenomena. Ia mendobrak tradisi dangdut yang mendayu sedih. Lagunya energik dan goyangnya bergairah. Asal mula direkam amatir di pentas desa, CDnya tak bagus. Tetapi isinya beda dan langsung disukai. Dari harga Rp. 3500 per keping, CDnya yang berisi goyang ngebor langsung jadi hits.
Dimana mana, kenduri atau pesta jadi tak sah jika tak ada lagu Inul. Semua meniru goyang ngebornya. NU dan Muhammadiyah melarang tapi dara bernama asli Ainur Rohimah ini tak terbendung. Inul jadi pembeda. Laris manis tak tertandingi.
Semula hanya ngetop di Jawa Timur, lalu merambah Jakarta dan Indonesia hingga Papua. Goyang Inul bahkan diekspor karena Ia berkali kali diundang mentas di mancanegara. Indonesia dapat promosi gratis dan dangdut naik kelas.
Sadar, tak selamanya di puncak, dara Pasuruan ini mulai merambah bisnis. Berbagai usaha dilakoni. Yang teringat di benak kita adalah penanda sebuah kota dianggap “maju” jika punya karaoke Inul. Tak terkecuali di Ternate. Branding ini sejajar dengan rumah makan siap saji seperti Mc Donnald dan Kentucy Fried Chiken.




