Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Di peta dunia, Iran kini tampak seperti sebuah negeri yang berdiri di tepi jurang. Perang Amerika Serikat dan Israel yang menghantam titik-titik strategis Iran, ancaman eskalasi yang lebih luas, kematian Ayatullah Ali Khamenei, serta seruan agar rakyat bangkit menjatuhkan rezim—semuanya datang hampir bersamaan seperti gelombang yang tidak memberi jeda. Dari kejauhan, Iran terlihat seperti bangunan tua yang retaknya semakin jelas.
Banyak orang mulai percaya bahwa keruntuhan hanyalah soal waktu. Namun sejarah sering kali menertawakan ramalan yang terlalu tergesa.
Kematian seorang pemimpin, betapapun besar pengaruhnya, tidak selalu berarti kematian sebuah negara. Iran bukan bangunan yang berdiri di atas satu tiang. Ia lebih menyerupai benteng tua yang dibangun lapis demi lapis oleh sejarah panjang, perang yang berulang, dan kesadaran kebangsaan yang sulit dipatahkan.
Karena itu harapan tentang kejatuhan cepat Republik Islam Iran mungkin lebih merupakan ilusi daripada kenyataan.
Iran mungkin terguncang, tetapi belum tentu runtuh.
Justru pada saat seperti inilah Iran biasanya menunjukkan daya tahannya.
Sejak Revolusi 1979, Republik Islam Iran berkali-kali diperkirakan akan berakhir.









