Sejarah menunjukkan pola yang berulang: Iran sering kali justru menguat ketika berada di bawah tekanan.
Itulah ironi yang jarang dipahami. Intervensi asing yang dimaksudkan untuk melemahkan rezim sering kali justru memperkuat legitimasi negara di mata rakyatnya sendiri.
Demonstrasi memang terjadi. Ketidakpuasan publik nyata adanya. Generasi muda Iran tumbuh dalam tekanan ekonomi dan pembatasan sosial yang panjang.
Banyak yang menginginkan perubahan. Namun keinginan untuk berubah tidak selalu berarti keinginan untuk menghancurkan negara.
Bagi banyak rakyat Iran, bayangan tentang Irak, dan Libya adalah peringatan yang terlalu nyata. Kekacauan setelah jatuhnya sebuah rezim sering kali lebih menakutkan daripada rezim itu sendiri.
Karena itu demonstrasi tidak otomatis berubah menjadi revolusi. Dan revolusi tidak selalu menghasilkan kebebasan.
Serangan militer mungkin bisa membunuh seorang pemimpin. Ia bisa menghancurkan fasilitas strategis, melumpuhkan ekonomi, bahkan mengguncang sistem politik.
Tetapi menghancurkan sebuah negara adalah perkara yang berbeda.
Iran terlalu luas untuk ditaklukkan dengan cepat, terlalu kompleks untuk diatur dari luar, dan terlalu berakar dalam sejarah untuk runtuh hanya karena satu krisis.









