Janji Manis Biar Laris

oleh -360 views

Bel masuk jam kedua pun berbunyi.
“Eh udah bel, gak kerasa banget ya. Yuk Nad ke kelas bareng” ajakku pada Nadya.
“Yuk Win!” jawab Nadya mengiyakan ajakanku.

Aku sesaat memikirkan perkataan Nadya tadi di kantin, apakah ada para elite politik yang benar-benar melek dan peduli rakyat terutama rakyat kecil sepertiku? Aku sangat ragu, aku tidak tahu akan memilih siapa? Calon manakah yang harus aku pilih? Rakyat sangat membutuhkan pemimpin yang bisa bersikap adil, tak memandang hal apapun berdasarkan harta. Dengan uang memang kitab isa mendapatkan segalanya, tapi segalanya tak hanya tentang uang.

Aku berdiri di hadapan jendela kamarku dan perlahan membukanya. Udara sejuk yang masuk terasa begitu tenang. Aku menatap lurus ke halaman depan rumahku yang berada simetris dengan gambar seseorang yang merupakan salah satu diantara mereka. Di sepanjang jalan kutemui banyak wajah dari mereka yang terpampang jelas dengan senyuman kebohongan, besar harapanku agar masa ini cepat berakhir. Visi dan misi serta program pengembangan dan kemajuan bagi bangsa telah mereka suarakan dengan lantang, dan keraguan yang ada pada diriku pun kian membara. “Bisakah mereka berkata dengan jujur?” “Dapatkah mereka menyuarakan kebenaran?” Sedikit rupiah yang mereka berikan pada kami dengan tujuan yang begitu besar, suara kami bukanlah sebuah barang yang bisa dibeli. Transaksi ini memang kerap terjadi di lingkungan sekitarku. Bagi kami rakyat miskin yang sangat membutuhkan uang, hal itu menjadi sebuah penawaran yang dapat diterima dengan mudah.

No More Posts Available.

No more pages to load.