Janji Manis Biar Laris

oleh -41 views
Link Banner

Cerpen Karya: Ira Andani

Ramai kudengar sorak-sorak gemuruh janji. Mereka selalu mengatakan hal-hal baik yang telah lama kami nantikan. Berharap dapat segera terlepas dari segala belenggu kemiskinan dan pengangguran yang melanda. Entah apa yang mereka bicarakan. Samar telinga ini mendengar, “Sungguh aku tak akan pernah termakan oleh omongannya”. Aku dan orang-orang disekitarku, kami membutuhkan bantuan. Kata-kata yang mereka ucap terdengar manis. Seolah menjadi sebuah jawaban dari doa-doa yang selama ini kami panjatkan. Aku tak tahu, benarkah semua ini akan diwujudkan nantinya, ataukah tidak sama sekali, dan hanyalah menjadi omong kosong belaka. Mereka terlihat seakan yakin dengan apa yang digaungkannya pada negeri ini. Bersuara dan menggema, kedustaan yang kami benci. Aku, kamu, dan kita semua sama, kami menunggu keajaiban pada negeri ini. Seraya meminta pada Tuhan, “Tolong sembuhkan bumi kami. Karena kini Indonesiaku sedang tidak baik-baik saja”.

Aku Winda, di tahun ini untuk pertama kalinya aku ikut serta dalam pemilu. Para kandidat calon wali kota itu mulai menjalankan misinya, mereka melakukan berbagai pemasaran untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Tentu masyarakat lah yang menjadi sasaran target dalam proses pemasaran. Pemasaran yang aku maksudkan disini adalah kampanye. Ya betul, sebelum pemilihan umum dilaksanakan, biasanya ada periode tertentu untuk para calon kandidat berkampanye. Tidak hanya dalam dunia bisnis, dalam politik pun perlu adanya marketing atau pemasaran. Hal ini dilakukan untuk menarik hati rakyat sebanyak-banyaknya agar pada pemilu nantinya ia berhasil terpilih dengan suara terbanyak.

Pagi itu pukul 07.00, aku harus cepat berangkat ke sekolah. Hari ini ada ulangan matematika, dengan terburu-buru aku berjalan keluar rumah tanpa sempat menutup pintu. Akhirnya, dengan sedikit berlari, aku sampai di halte. Aku duduk dengan tergesa dan napas yang terputus-putus, capek sekali rasanya berlari kecil di pagi hari dengan jarak yang cukup jauh. Tak lama kemudian ada angkot yang dating, angkot ini akan melewati sekolahku, segera aku lambaikan tangan dan menaikinya. Di dalam angkot aku tak sengaja bertemu dengan salah satu teman sekolahku yang terkenal dengan kecerdasannnya.

“Eh Nadya, kebetulan banget kita bareng hehehe…” kataku memulai obrolan.
“Eh kamu Win, telat juga? Hahaha…” kata Nadya dengan sedikit tertawa.
“Iya nih Nad, semalem aku bergadang, makanya jadi kesiangan gini” jawabku pada Nadya.
“Hahaha… kita sama Win, semalem aku juga begadang. Pasti buat persiapan ulangan matematika hari ini ya kan?” tanya Nadya dengan senyuman manisnya.
“Wah aku gak se-rajin kamu Nad, semalem aku begadang karena nonton film, episodenya banyak banget abisnya hahaha…” jawabku dengan tertawa renyah.
“Yeh aku kira karena kamu belajar buat persiapan ulangan, taunya nonton hahaha…” kata Nadya dengan tatapan meledek.
“Hehehe…” tawaku mengakhiri obrolan.

Baca Juga  Klopp Nangis Usai Liverpool Dilumat Leicester

Sesampainya di sekolah kami berdua bergegas masuk kelas, untungnya gerbang sekolah masih terbuka. Beberapa menit kemudian, bel masuk jam petama pun berbunyi. Jam menunjukkan pukul 10.00, waktu untuk mengerjakan ulangan pun habis, segera aku kumpulkan kertas jawabanku dengan beberapa soal yang belum terjawab. Aku bergegas ke kantin untuk beristirahat, aku membeli satu jus alpukat dan membawanya ke salah satu meja yang masih kosong. Tiba-tiba Nadya menghampiriku dengan membawa segelas es teh manis.

“Hai win!” sapa Nadya sambil pelahan duduk di hadapanku.
“Eh Nadya, ada apa Nad?” tanyaku pada Nadya.
“Gak ada apa-apa sih Win, aku cuma pengen ngobrol lagi aja kaya tadi di angkot hahaha…” jawab Nadya sambil tertawa renyah.
“Ooohh gituu, boleh dong Nad” kataku dengan sedikit tersenyum.

“Bentar lagi kan pemilu wali kota nih Win, tanggapan kamu gimana soal itu?” tanya Nadya padaku.
“Soal dunia politik aku gak tau banyak sih Nad, tapi yang pasti aku tau, biasanya calon-calon pas kampanye banyak berjanji inilah itulah tapi ga ada realisasinya sama sekali” jawabku sok tahu.
“Ya gitu lah Win, janji manis terus tapi ga ada aksi nyatanya buat masyarakat” kata Nadya menyetujui perkataanku.
“Makanya Nad, aku paling gak suka nih kalo udah masa periode kampanye kaya sekarang ini, baliho dimana-mana, visi misi dan proker disuarakan” kataku sambil mengaduk jus alpukat yang hampir habis.
“Tapi kita ga bisa sama ratakan juga sih Win. Maksudku, mungkin aja dari beberapa calon, ada yang emang jujur dan amanah” jelas Nadya.
“Entahlah Nad, yang jelas aku berhadap siapapun wali kota yang terpilih nantinya, dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik, dan penuhi semua janji-janji manisnya hahaha…” kataku sambil tersenyum tipis.
“Bener banget Win, jangan sampe deh ya kaya yang sebelum sebelumnya hahaha…” kata Nadya bersemangat.

Bel masuk jam kedua pun berbunyi.
“Eh udah bel, gak kerasa banget ya. Yuk Nad ke kelas bareng” ajakku pada Nadya.
“Yuk Win!” jawab Nadya mengiyakan ajakanku.

Aku sesaat memikirkan perkataan Nadya tadi di kantin, apakah ada para elite politik yang benar-benar melek dan peduli rakyat terutama rakyat kecil sepertiku? Aku sangat ragu, aku tidak tahu akan memilih siapa? Calon manakah yang harus aku pilih? Rakyat sangat membutuhkan pemimpin yang bisa bersikap adil, tak memandang hal apapun berdasarkan harta. Dengan uang memang kitab isa mendapatkan segalanya, tapi segalanya tak hanya tentang uang.

Baca Juga  Wisatawan Amerika Hilang di Laut Ambon

Aku berdiri di hadapan jendela kamarku dan perlahan membukanya. Udara sejuk yang masuk terasa begitu tenang. Aku menatap lurus ke halaman depan rumahku yang berada simetris dengan gambar seseorang yang merupakan salah satu diantara mereka. Di sepanjang jalan kutemui banyak wajah dari mereka yang terpampang jelas dengan senyuman kebohongan, besar harapanku agar masa ini cepat berakhir. Visi dan misi serta program pengembangan dan kemajuan bagi bangsa telah mereka suarakan dengan lantang, dan keraguan yang ada pada diriku pun kian membara. “Bisakah mereka berkata dengan jujur?” “Dapatkah mereka menyuarakan kebenaran?” Sedikit rupiah yang mereka berikan pada kami dengan tujuan yang begitu besar, suara kami bukanlah sebuah barang yang bisa dibeli. Transaksi ini memang kerap terjadi di lingkungan sekitarku. Bagi kami rakyat miskin yang sangat membutuhkan uang, hal itu menjadi sebuah penawaran yang dapat diterima dengan mudah.

Menjadi seorang pemimpin memang tidak lah mudah, apalagi memimpin sebuah negara besar yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Dibutuhkan sikap jujur, adil, dan amanah dalam mengemban tugas besar ini. Dulu saat aku duduk di bangku sekolah dasar, aku sempat bercita-cita ingin menjadi presiden agar fotoku bisa dipajang di setiap kelas, berada tinggi di depan, tepatnya di atas papan tulis. Hahahaha alasanku memang terdengar sangat bodoh. Setelah beranjak dewasa aku mulai berpikir, dengan melihat banyak fakta yang terjadi, bahwa menjadi pemimpin perlu konsistensi pada apa yang dijanjikannya pada rakyat. Berkata seolah ialah yang kami cari selama ini, tetapi pada saatnya ia menjabat, ketidaksesuaian dengan perkataannya saat kampanye mulai terlihat. Sungguh aku muak dengan hal basi ini. “Apakah para elite itu tak ada yang berkata dengan sebenarnya?” “Tak ada yang bekerja dengan sesungguhnya?” Wewenang yang negara berikan kepada mereka wakil rakyat, terkadang membuat mereka terlupa. Terlupa akan banyaknya rakyat yang menangis kelaparan, banyaknya rakyat yang membutuhkan pekerjaan, banyaknya anak yang harus bersekolah, banyaknya sekolah tidak layak yang butuh difasilitasi, banyaknya akses jalan di pelosok yang harus diperbaiki.

Mungkin apa yang mereka katakan pada rakyat saat ini menjadi salah satu strategi dalam memenangkan pemilu yang katanya merupakan pesta demokrasi. Demokrasi yang memiliki arti “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat” tidak aku temukan disini, kutemukan arti lain dibalik semua ini. Keberhasilan yang mungkin mereka maksudkan adalah disaat mereka bisa memenangkan pemilu dan menduduki kursi teratas, tak peduli banyak janji yang harus ditepati, tak peduli banyak tugas yang harus dipenuhi. Rakyat yang tidak menjadi prioritas utama baginya, hanya kekuasaan dan uang lah yang ia inginkan. Tak ada hal lain yang lebih penting dari pada tahta, mereka ingin menguasai negeri ini agar berada dalam genggamannya.

Baca Juga  Tolak Pilkades, Warga Adat Demo di Kantor Bupati Seram Bagian Barat

“Pilihlah aku, niscaya akan kubangun bangsa ini lebih maju!”
“Pilihlah aku, maka akan kupenuhi semua kebutuhan dan keinginan rakyatku!”
“Pilihlah aku, niscaya akan kubuat sekolah-sekolah dengan fasilitas yang layak!”
“Pilihlah aku, maka akan kulindungi seluruh hak anak negeri ini!”
“Pilihlah aku, niscaya akan kumusnahkan para koruptor!”
“Pilihlah aku, maka akan kupastikan rakyatku hidup sejahtera!”
“Pilihlah aku, niscaya akan kuciptakan banyak lapangan pekerjaan!”
“Pilihlah aku, maka akan kuhilangkan kemiskinan dan pengangguran yang ada!”
Itulah yang mereka semua katakan agar rakyat teracuni untuk memilihnya. Bahkan, semua media berada atas arahan tangannya, settingan-settingan pun dibuat untuk mempengaruhi pemahaman rakyat.

Para calon itu mulai unjuk gigi, kibar bendera persaingan tersebar dimana-mana. Mereka tampil dengan eloknya semacam raja semut yang siap memimpin pergerakan rakyatnya. Tampak begitu gagah dan sigap untuk memerangi dan memberantas kesengsaraan yang ada pada rakyat seperti kami ini. Mereka hadir terasa dekat tanpa keterbatasan dengan rakyat, hanya sesaat lalu menghilang. Periode ini berlangsung cukup lama bagiku, aku bosan melihat kefanaan yang ada dihadapanku. Pemasaran yang para kandidat itu lakukan terlihat begitu cantiknya. Politik ini menjadi seperti game yang sedang mereka mainkan, terasa begitu seru dan menantang. Masyarakat yang menjadi target pasar, yaitu sasaran utama para elite dalam proses marketing politik. Aku bingung untuk menggunakan hak suaraku, rasanya tak memilih siapapun merupakan pilihan terbaik. Tak hanya pedagang atau pengusaha yang melakukan kegiatan marketing, para politikus negara-pun perlu melakukan marketing atau pemasaran.

Seperti biasanya, apa yang mereka janjikan pada kami, tak ada bukti nyata yang dijalankan, tak ada realisasi yang kami rasakan. Aku berharap, kegiatan kemanusiaan yang dilakukan tidak hanya semata-mata untuk keperluan politik. Bangsa ini menanti para pemimpin yang bisa dengan jujur, adil, dan amanah dalam mensejahterakan rakyat. Indonesiaku bisa tersenyum jika tak ada lagi kecurangan disekeliling kita. Kita bersama-sama membasmi para oknum pemecah bangsa, para oknum yang melakukan korupsi, dan apapun yang bisa merusak ketahanan nilai luhur Pancasila. Jaya selalu NKRI, aku, kamu, dan kita semua akan membuatmu bangga dengan banyak prestasi anak bangsa. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.