Hari ini, di Lateri, Passo, dan Air Salobar, sisa-sisa warisan itu masih terasa. Bau arang, suara besi, dan logat khas Buton yang kadang menyelip di antara bahasa Ambon sehari-hari menjadi penanda betapa panjang perjalanan diaspora itu. “Kami datang dari laut,” kata lelaki tua itu lirih, “dan laut pula yang membuat kami tetap di sini.”
Rantau dan Perahu: Warisan Laut Buton
Bagi orang Binongko, laut bukan batas, melainkan jembatan menuju takdir. Mereka mengenal laut seperti petani mengenal tanah, memahami musim, arah angin, dan arus yang membawa rezeki.
Di masa lalu, para leluhur mereka berangkat dari pelabuhan kecil di Wakatobi dengan perahu soppe berlayar layar putih, membawa besi, parang, dan alat pertanian hasil tempa tangan. Laut Banda dan Laut Seram bukan wilayah asing bagi mereka, melainkan halaman rumah yang luas.
Mereka singgah dari pulau ke pulau, memperbaiki perahu di pantai, lalu berdagang di pasar-pasar kecil di Ambon, Haruku, dan Saparua. Di mana perahu mereka berlabuh, di situ mereka membangun kehidupan. Lama-kelamaan, muncul kampung-kampung kecil yang dihuni keluarga Buton, komunitas perantau yang hidup dari laut namun berakar pada tanah keislaman yang kuat.
Keahlian mereka menempa besi menjelma modal sosial. Parang dan alat kerja buatan tangan mereka bukan sekadar komoditas dagang, tetapi simbol keandalan dan integritas.








