Dalam masyarakat Maluku, parang bukan hanya alat memotong kayu, tapi juga lambang kehormatan. Orang Binongko memahami makna itu. Mereka membuat parang bukan hanya untuk dijual, tetapi juga untuk menjaga hubungan sosial, hadiah bagi tuan tanah, mahar pernikahan, atau tanda persaudaraan baru.
Dari besi panas yang mereka tempa, lahir ikatan-ikatan sosial yang melampaui garis etnis dan agama.
Perlahan, orang Buton diterima di Ambon bukan sebagai pendatang, melainkan sebagai bagian dari denyut nadi kota pelabuhan. Mereka ikut dalam aktivitas ekonomi, berdagang di pasar Mardika, menjadi nelayan di Teluk Ambon, dan menyuplai alat pertanian bagi penduduk di pulau-pulau sekitarnya.
Sebagian menjadi guru ngaji dan imam di masjid kecil yang mereka bangun di pinggir laut. Sebagian lagi menikah dengan perempuan setempat, melahirkan generasi yang fasih berbahasa Ambon, namun tetap menyebut diri “orang Buton.”
Perdagangan Muson dan Jejaring Laut
Setiap musim angin barat, perahu-perahu Buton berangkat menuju Ambon dan Seram. Mereka mengikuti angin, bukan peta.
Kapal-kapal kecil dari Wakatobi membawa barang dagangan dari Jawa, beras, kain, dan kebutuhan rumah tangga, lalu menukar dengan kopra, pala, dan cengkeh yang dipanen petani setempat. Jaringan perdagangan ini membentuk ekonomi pesisir yang berdenyut mengikuti siklus angin muson.








