Jokowi, Dedi Mulyadi, dan Sisi Gelap Kepemimpinan Populis

oleh -20 Dilihat

Pada tingkat paradigmatik cara pandang pemimpin populis hanya melihat apa yang muncul di permukaan tanpa menyelami lebih jauh akar persoalan.

Padahal dalam upaya menyelesaikan persoalan sosial sangat penting mendalami persoalan. Merujuk pada istilah Max Weber (1912) tentang verstehen, yang artinya memahami persoalan tidak sekadar kognitif, tapi juga secara mendalam, mengedepankan empati, dan mempertimbangkan pengalaman orang tersebut.

Dampaknya terjadi polarisasi dan ketegangan di masyarakat dengan narasi pro dan kontra, setuju dan tidak setuju serta lebih jauh menciptakan wacana kita atau mereka, yang akhirnya memperburuk relasi sosial di masyarakat.

Apalagi di era post-truth (pasca kebenaran) saat ini kebenaran itu sangat subjektif dan masyarakat selalu coba dituntun mencari pembenaran atas semua tindakan pemimpin yang dikaguminya.

Lebih jauh, kepemimpinan populisme sangat mengglorifikasi persona individu sebagai pusat kekuasaan yang mengakibatkan semua kebijakan seolah otokratik atau tidak bisa dikritik.

Baca Juga  MPP AMGPM 2026 di Ohoira Perkuat Kaderisasi Pemuda Gereja

Penyebabnya kepemimpinan populis bersifat narsistik karena cenderung mengambil keputusan secara sepihak tanpa melibatkan pihak lain dalam setiap tahapan proses pembuatan dan pengimplementasian kebijakan.

No More Posts Available.

No more pages to load.