Kampung di Galela yang Hilang

oleh -353 views
Link Banner

Oleh: Muhammmad Diadi, Penulis, Pelaku Budaya Galela

Pada tahun 1686, orang Galela tinggal di dua kampung yang berlokasi di tepi danau Galela. Masyakarat Galela dikenal sebagai Soa Mogiowo yaitu sepuluh soa, yang terpisah-pisah dengan penduduk Islam di dibagian pesisir yang digolongkan sebagai Soasio, yaitu sembilan soa.

Sepuluh soa dibagi kedalam dua kelompok yang masing-masing terdiri dari lima soa. Yang pasti, kelompok lima berganda yang saling terpisah ini telah ada, paling kurang antara akhir abad ke-19 dan pada permulaan abad ke-20. Dan setiap soa memiliki seri yaitu kuil di kampung mereka masing-masing untuk wonge yaitu roh penjaga. Jadi Galela ada sepuluh seri.

Sepuluh soa ini tidak dapat disamakan dengan desa-desa, karena sebenarnya ada banyak kampung dan dusun kecil yang jauh lebih daripada sepuluh. Menurut survei pada tahun 1911, Tiga puluh nama kampung telah ditemukan di wilayah Galela dengan jumlah penduduk sebanyak 4.193 jiwa. Namun kata kampung dalam bahasa Galela bukanlah Soa, tetapi Doku. Tetapi nama-nama dari sepuluh soa juga nama-nama kampung.

Menurut laporan De Jong (1909), dan Ouwehand (1949), setiap soa masing-masing dijadikan sebagai sebuah kampung utama dengan sejumlah kampung-kampung lainnya. Jadi jumlah kampung dan dusun kecil ditempati oleh orang Galela, yang tidak tetap, telah dibagi ke dalam sepuluh soa. Dan sepuluh soa ini dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri dari lima soa, yang menurut Ouwehand disebut dengan Soa ma Ngowo yaitu soa tua, dan Soa ma Sungi yaitu soa baru.

Baca Juga  Operasi Aman Nusa II, Sat Binmas Polres Kepsul Lakukan Bakti Sosial

Pada tahun tahun 1662 penduduk Galela diperkirakan berjumlah 100 orang laki-laki dewasa, jadi sekitar 400 atau 500 jiwa. Pada tahun 1858 penduduk Galela diperkirakan berjumlah 4.200 jiwa. Menurrut survei tahun 1911 jumlah yang ada diwilayah Galela 4.196 jiwa, terbagi dalam 3.109 orang yang belum beragama, 823 orang Islam dan 264 orang beragama Kristen. Pada tahun 1930 penduduk di wilayah Galela berjumlah 6.174 jiwa dan pada tahun 1971, berjumlah 10.897 jiwa (Fraassen 1979:3-13).

Ini adalah beberapa Doku (kampung) yang telah hilang:

  1. Tete Wanga Magola (Doku bi uudu)
  2. Dowongi daare (Doku bi uudu)
  3. Tolohi ma Lowo (Doku bi uudu)
  4. Ngahi (Doku bi uudu)
  5. Wasi (Doku bi uudu)
  6. Gamsungi (Doku bi uudu)
  7. Kao kao (Dokiu bi uudu)
  8. Totoku (Doku bi uudu)
  9. Kapupi (Doku bi uudu)
  10. Bora (Doku bi uudu)
  11. Sosora (Doku bi uudu)
  12. Saki ma doku (Doku bi uudu).
Baca Juga  Keluhan Pedagang Pasar Gotong Royong Ambon Terjawab

Menurut saya penyebab hilang kampung-kampung di Galela ada beberapa faktor:

  1. Terjadinya peperang antara suku yang berlansung lama karna pada tahun 1662 orang Galela dianggap sebagai orang-orang tidak beradab dan suka membunuh
  2. Ekspansi kesultanan Ternate pada masa Kolano Kaicil Komalo Pulu (Bessi Muhammad Hasan) (1377-1432),
    Sultan Tabariji (1532-1535), Sultan Khairun Jamil (1535-1570), serta Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583),
  3. Budaya Canga “Yaitu suatu dinamika kehidupan yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara merantau melalui lautan, walaupun harus menghadapi berbagai tantangan alam, musuh, kelaparan, dan lain-lain,”(Urbanus).
  4. Becana alam Meletusnya Gunung
    Pada tahum 1550 terjadi letusan hebat dan gempa bumi yang merusak kota Mamuya, ibukota Moro (Verbeek, 1908). Aliran lava menghubungkan G. Mamuya dengan P. Halmahera yang tadinya dipisahkan oleh laut/selat (Newmann van Padang, 1939)
  5. Kesengajaan orang Galela mengubah nama kampung atau menghilangkannya.
Baca Juga  O Deru Galela
Ket. Foto: Kampung adat di Galela, Halmahera 1924.