Oleh: Muhammmad Diadi, Penulis, Pelaku Budaya Galela
Pada tahun 1686, orang Galela tinggal di dua kampung yang berlokasi di tepi danau Galela. Masyakarat Galela dikenal sebagai Soa Mogiowo yaitu sepuluh soa, yang terpisah-pisah dengan penduduk Islam di dibagian pesisir yang digolongkan sebagai Soasio, yaitu sembilan soa.
Sepuluh soa dibagi kedalam dua kelompok yang masing-masing terdiri dari lima soa. Yang pasti, kelompok lima berganda yang saling terpisah ini telah ada, paling kurang antara akhir abad ke-19 dan pada permulaan abad ke-20. Dan setiap soa memiliki seri yaitu kuil di kampung mereka masing-masing untuk wonge yaitu roh penjaga. Jadi Galela ada sepuluh seri.
Sepuluh soa ini tidak dapat disamakan dengan desa-desa, karena sebenarnya ada banyak kampung dan dusun kecil yang jauh lebih daripada sepuluh. Menurut survei pada tahun 1911, Tiga puluh nama kampung telah ditemukan di wilayah Galela dengan jumlah penduduk sebanyak 4.193 jiwa. Namun kata kampung dalam bahasa Galela bukanlah Soa, tetapi Doku. Tetapi nama-nama dari sepuluh soa juga nama-nama kampung.
Menurut laporan De Jong (1909), dan Ouwehand (1949), setiap soa masing-masing dijadikan sebagai sebuah kampung utama dengan sejumlah kampung-kampung lainnya. Jadi jumlah kampung dan dusun kecil ditempati oleh orang Galela, yang tidak tetap, telah dibagi ke dalam sepuluh soa. Dan sepuluh soa ini dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri dari lima soa, yang menurut Ouwehand disebut dengan Soa ma Ngowo yaitu soa tua, dan Soa ma Sungi yaitu soa baru.




