Pada tahun tahun 1662 penduduk Galela diperkirakan berjumlah 100 orang laki-laki dewasa, jadi sekitar 400 atau 500 jiwa. Pada tahun 1858 penduduk Galela diperkirakan berjumlah 4.200 jiwa. Menurrut survei tahun 1911 jumlah yang ada diwilayah Galela 4.196 jiwa, terbagi dalam 3.109 orang yang belum beragama, 823 orang Islam dan 264 orang beragama Kristen. Pada tahun 1930 penduduk di wilayah Galela berjumlah 6.174 jiwa dan pada tahun 1971, berjumlah 10.897 jiwa (Fraassen 1979:3-13).
Ini adalah beberapa Doku (kampung) yang telah hilang:
- Tete Wanga Magola (Doku bi uudu)
- Dowongi daare (Doku bi uudu)
- Tolohi ma Lowo (Doku bi uudu)
- Ngahi (Doku bi uudu)
- Wasi (Doku bi uudu)
- Gamsungi (Doku bi uudu)
- Kao kao (Dokiu bi uudu)
- Totoku (Doku bi uudu)
- Kapupi (Doku bi uudu)
- Bora (Doku bi uudu)
- Sosora (Doku bi uudu)
- Saki ma doku (Doku bi uudu).
Menurut saya penyebab hilang kampung-kampung di Galela ada beberapa faktor:
- Terjadinya peperang antara suku yang berlansung lama karna pada tahun 1662 orang Galela dianggap sebagai orang-orang tidak beradab dan suka membunuh
- Ekspansi kesultanan Ternate pada masa Kolano Kaicil Komalo Pulu (Bessi Muhammad Hasan) (1377-1432),
Sultan Tabariji (1532-1535), Sultan Khairun Jamil (1535-1570), serta Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583), - Budaya Canga “Yaitu suatu dinamika kehidupan yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara merantau melalui lautan, walaupun harus menghadapi berbagai tantangan alam, musuh, kelaparan, dan lain-lain,”(Urbanus).
- Becana alam Meletusnya Gunung
Pada tahum 1550 terjadi letusan hebat dan gempa bumi yang merusak kota Mamuya, ibukota Moro (Verbeek, 1908). Aliran lava menghubungkan G. Mamuya dengan P. Halmahera yang tadinya dipisahkan oleh laut/selat (Newmann van Padang, 1939) - Kesengajaan orang Galela mengubah nama kampung atau menghilangkannya.





