Kekerasan, Baik Fisik Maupun Verbal, Tetaplah Kekerasan

oleh -458 views

Kita tidak memiliki pemimpin namun kita memiliki ‘influencers.’ Dan kita memperlakukan para influencers itu seperti para pemimpin kita. Atau, para pemimpin kita memimpin dengan berlagak seperti influencers dengan populismenya yang murahan itu.

Dan, kita juga memberlakukan apa yang disebut “cancel culture” atau kebudayaan mengasingkan atau meniadakan yang tidak kita sukai. Kita meng-cancel apa saja yang kita anggap tidak berada dalam zona nyaman kita.

Mode berkuasa pada jaman ini adalah dengan menciptakan imajinasi keblinger cancel culture ini. Dan, ironisnya, cancel culture ini diciptakan oleh mereka yang menganggap dirinya paling toleran. Mereka yang menganggap dirinya pejuang pluralisme. Mereka yang memperjuangkan kebebasan apa saja.

Baca Juga  Gunung Dukono Kembali Erupsi, Aktivitas Meningkat dalam Sepekan

Saya kira, disinilah sambungan antara kekerasan terhadap AA dengan seluruh bangunan sistem kekuasaan kita. AA menjadi bagian dari pertarungan itu.

Tidak perlu waktu terlalu lama, rekan-rekan AA dalam satu barisan di media segera memproklamirkan bahwa pelaku-pelaku pengeroyokan terhadap AA adalah para “kadrun.” Anda tentu hapal dengan kata kunci yang senantiasa dipakai dalam provokasi online.

Siapa saja yang tidak sepakat dengan mereka langsung mendapat cap “kadrun” atau kadal gurun. Itulah istilah yang diciptakan oleh kelompok ini. Maknanya tertuju pada kadal yang volume otaknya kecil, yang hidup di gurun — sebuah metafor sarkastik untuk menggambarkan kebodohan yang fanatik dalam beragama.

No More Posts Available.

No more pages to load.