Kekerasan, Baik Fisik Maupun Verbal, Tetaplah Kekerasan

oleh -479 views

Gerakan sosial pun berubah. Di kampus-kampus besar bukan tidak muncul gerakan. Anak-anak kelas menengah ini, ketika menghadapi represi politik, menjadi sangat relijius. Akademisi sekular didikan Belanda sudah pensiun. Generasi berikutnya lebih tertarik pada agama, khususnya Islam. Kebangkitan agama mulai dari kampus-kampus khususnya kampus-kampus elit.

Persis pada saat itu juga muncul gerakan-gerakan mahasiswa di luar kampus. Mereka mengambil gerakan yang sangat berbeda, yakni gerakan kiri. Eksperimen gerakan sosialis pun dimulai. Dari luar kampus.

Gerakan ini hanya sempat muncul sebentar hingga direpresi habis-habisan oleh rejim Orde Baru pada 1996. Sementara di kampus-kampus elit gerakan Islam semakin kuat, gerakan yang mengatasnamakan mahasiswa agak melemah.

Baca Juga  DPRD Maluku Desak Evaluasi Tambang Sinabar Gunung Tembaga

Faksi kiri dalam gerakan mahasiswa menjadi semakin radikal. Banyak dari mereka melepaskan atribut mahasiswa dan menjadi organisator massa akar rumput.

Akhir-akhir kekuasaan Suharto, pelaku aksi-aksi mahasiswa tidak lagi terpusat di kampus-kampus elit. Banyak aktivis berasal dari kampus-kampus non-elit. Karakter gerakan pun berubah. Taktik di jalanan ketika melakukan demo pun berubah.

Jika pada masa-masa sebelumnya para pendemo mahasiswa cenderung menghindar dari bentrokan dengan aparat, maka dalam tiga tahun periode akhir Suharto, para pendemo justru mencari-cari cara bentrokan dengan aparat. Mereka mempersiapkan diri dengan baik — dengan bom molotov, ban-ban untuk dibakar, serangan terkomando, lengkap dengan rute evakuasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.