Menurut Mikke, banyak lukisan Basoeki yang dipengaruhi sentuhan Eropa. Itu merupakan efek dari pergaulannya yang luas di kalangan seniman Eropa. Apalagi, Basoeki juga sempat mengenyam pendidikan di Akademi Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda. Sentuhan Eropa itu salah satunya terlihat dari bagaimana dia melukis Presiden Soeharto dengan memosisikan model 3/4 menghadap depan.
Pose tiga dimensi tersebut membuat model tampak berwibawa. Sekalipun dipengaruhi gaya khas Eropa, unsur budaya Jawa tak ketinggalan dia tuangkan dalam lukisan tersebut. Begitu pun dalam lukisan Thailand, Raja Bhumibol Adulyadej, yang banyak memasukkan latar berupa pernak-pernik khas Negeri Gajah.

Meski melukis banyak tokoh terkenal, Basoeki juga acap kali menuangkan sisi kemanusiaannya. Sebab, dia yang pada dasarnya memiliki darah biru sebenarnya juga aktif di gerakan-gerakan sosial yang membela kaum proletar. Terlebih, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno hingga masa revolusi, banyak momen yang membuatnya tersentuh untuk lebih memperhatikan kaum tertindas.
Hal itu, misalnya, dituangkan dalam lukisan seorang petani yang sedang membajak sawah. Basoeki tak hanya melukis petani yang sedang bekerja. Ada keindahan berupa sapuan goresan yang menggambarkan awan yang cukup dramatis, yang diimbangi dengan merekahnya sinar matahari yang menaungi si petani.





