Seiring waktu, publik mulai melihat dia sepertinya tidak mampu mengubah janji-janji politiknya menjadi realitas yang dapat dinikmati oleh masyarakat Maluku Utara.
Publik pun mulai menyadari bahwa tugas besar Sherly bukan soal bagaimana ia tampil di panggung kampanye maupun di media sosial, melainkan bagaimana Maluku Utara berubah. Tantangan nyatanya adalah ketimpangan pembangunan dari ujung Morotai hingga Taliabu, IPM yang masih rendah dalam konteks nasional, dan birokrasi yang belum sepenuhnya bersih dari warisan masa lalu.
Publik juga mulai tersadarkan bahwa citra digital hanya ruang gema bagi pencitraan yang hampa dan julukan “Gubernur Tiktok” pun mulai berbunyi. Sementara Sherly masih terjebak pada ruang ilusi yang dibangun bersama timnya hingga hari-hari ini. (*)











