Penulis Buku “Panglima Surga” Nugra dilansir dari Hidayatullah menceritakan kisah perang Istana Besar ini. Pada Tahun 1578 Kekhalifahan Turki Utsmani berada pada masa puncak kejayaan di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Qonuni. Wilayah kekuasaannya meliputi Turki hingga di perbatasan Hungaria di sebelah barat, Timur Tengah (Syiria hingga Hijazz), Mesir dan seluruh wilayah Afrika Utara minus Maghribi (Maroko). Laut Timur Tengah berada dalam hegemoni Utsmaniyah.
Persekutuan erat terjalin dengan Perancis sehingga Eropa terpecah belah, namun memiliki semangat yang sama, penjelajahan dan penaklukan dunia baru. Kapal-kapal Portugal, Spanyol, Inggris, Perancis, Italia telah melanglang buana sejak tersebarnya penemuan Amerika oleh Colombus pada Tahun 1492 serta penemuan ladang emas Inca-Maya oleh Cortez plus pembantaian bangsa Inca-Maya.
Hal ini menambah ambisi Portugis dan negara Eropa lainnya untuk melakukan penjajahan. Pada Tahun 1578, di Maroko terjadi konflik penguasa antara Abu Abdullah Muhammad Mutawakkil as-Sa’di dengan pamannya, Abdul Malik. Setelah kalah oleh sang paman, as-Sa’di lantas meminta bantuan kepada Raja Portugal, Sebastian, untuk mengalahkan Abdul Malik yang beraliansi dengan Turki Utsmani yang saat itu dipimpin Sultan Sulaiman Al-Qonuni.










