Dalam kesempatan yang sama, dibahas pula pemanfaatan dan peluang perikanan tangkap terkait estimasi potensi, dan tingkat pemanfaatan di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) bagian Indonesia Timur. Kemenko Marves mencatat, status total stok pada WPP 714, 715, dan 718 sebanyak 1,2 juta ton yang terdiri dari ikan pelagis kecil, ikan pelagis besar, lobster, kepiting, dan rajungan.
“Dari angka tersebut, terkait peluang investasi, perlu strategi peningkatan produksi perikanan tangkap dengan memanfaatkan 600.000 ton atau 50% dari potensi yang bisa dimanfaatkan dan relokasi izin kapal dari WPP lainnya yang melebihi JTB (jumlah tangkapan yang diperbolehkan) ke WPP 714, 715, dan 718 dengan pelabuhan pangkalannya di Maluku. Sehingga nilai yang dapat diperoleh kurang lebih Rp15 triliun,” papar Farah.
Ia turut menginformasikan terkait archipelagic tuna di WPP 713, 714, dan 715 terdapat sejumlah hasil tangkapan sedikit di atas limit reference point (fully exploited). Dari hal tersebut, Farah menegaskan bahwa terdapat peluang investasi karena diperlukan peningkatan ekspor sebanyak 50.000 ton dengan nilai kurang lebih Rp4 triliun.
“Untuk mencapai angka tersebut, perlu dibentuknya strategi peningkatan nilai dan kualitas hasil tangkapan nelayan khususnya skala kecil,” imbuhnya.




