Kemenko Marves Usulkan Ambon New Port Sebagai Regional Hub

oleh -139 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi atau Kemenko Marves mengusulkan Ambon New Port sebagai Regional Hub. Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan pun mengawal studi pendahuluan (SP) sebagai langkah awal realisasi pembangunan pelabuhan perikanan new Ambon.

Saat ini, World Bank sedang melakukan studi pendahuluan terkait pelabuhan new Ambon. Asisten Deputi Bidang Investasi Jasa Farah Heliantina menjelaskan, selanjutnya studi pendahuluan juga perlu dilakukan juga oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang ditargetkan rampung pada Mei 2021. Sebab Feasibility Study (FS) sangat diperlukan untuk penentuan lokasi Ambon New Port.

Menurut Farah terdapat tiga hal utama yang harus diperhatikan saat melakukan FS, yakni aspek teknis, aspek ekonomi, dan dukungan infrastruktur yang harus diberikan pemerintah. Ia juga berharap agar PT SMI dapat aktif berkoordinasi dengan pihak lain.

“SMI diharapkan aktif berkoordinasi dengan Kemenhub, KKP, Pemda, dan Pelindo IV terkait data pendukung untuk penunjang pelaksanaan studi pendahuluan,” terang Farah seperti dilansir dari validnews, Kamis (11/3/2021).

Sebelumnya, alasan pemindahan pelabuhan Ambon dikarenakan keterbatasan pelabuhan perikanan yang lama di wilayah tersebut, ditambah penyampaian usulan World Bank terkait Eastern Indonesia Port-Ied development projects.

Farah menuturkan, pengembangan Pelabuhan Ambon dan jalan akses mengalami kendala keterbatasan area lahan darat. Mengingat, lokasi Pelabuhan Ambon berada di daerah pusat perdagangan, pemukiman, dan fasilitas umum perkotaan lainnya. Selain itu, terkait pelabuhan perikanan juga telah mencapai kapasitas maksimum.

Baca Juga  Diduga Konsumsi Narkoba Jenis Sabu, WZW Anggota DPRD Maluku Diamankan Polisi

Guna membahas hal tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan mengadakan rapat koordinasi terkait studi penelitian di Ambon, Senin (8/3). Dalam proyek ini, Kemenko Marves menggandeng sejumlah pemangku kepentingan, seperti Kemenhub, KKP, BKPM, Pelindo IV, World Bank, SMI, dan sejumlah pihak terkait.

Pada rapat koordinasi tersebut, Farah mengatakan perlunya dilakukan sembilan indikasi linimasa dalam pelaksanaan SP Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) pelabuhan new Ambon. Indikasi tersebut, di antaranya kick-off proyek, pengumpulan informasi awal dan penyusunan laporan pendahuluan, analisis kebutuhan, kajian kriteria kepatuhan, serta identifikasi manfaat badan usaha. Termasuk juga dibutuhkan analisis potensi pendapatan dan skema pembiayaan, kajian yang memuat referensi internasional atas proyek KPBU sejenis, serta rekomendasi dan rencana tindak lanjut.

Baca Juga  Besok, Malam Ela ela dilaksanakan di Sigi Lamo Kesultanan Ternate

Dalam kesempatan yang sama, dibahas pula pemanfaatan dan peluang perikanan tangkap terkait estimasi potensi, dan tingkat pemanfaatan di tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) bagian Indonesia Timur. Kemenko Marves mencatat, status total stok pada WPP 714, 715, dan 718 sebanyak 1,2 juta ton yang terdiri dari ikan pelagis kecil, ikan pelagis besar, lobster, kepiting, dan rajungan.

“Dari angka tersebut, terkait peluang investasi, perlu strategi peningkatan produksi perikanan tangkap dengan memanfaatkan 600.000 ton atau 50% dari potensi yang bisa dimanfaatkan dan relokasi izin kapal dari WPP lainnya yang melebihi JTB (jumlah tangkapan yang diperbolehkan) ke WPP 714, 715, dan 718 dengan pelabuhan pangkalannya di Maluku. Sehingga nilai yang dapat diperoleh kurang lebih Rp15 triliun,” papar Farah.

Baca Juga  Angkot Trayek Hatu Dilarang Masuk Kota Ambon

Ia turut menginformasikan terkait archipelagic tuna di WPP 713, 714, dan 715 terdapat sejumlah hasil tangkapan sedikit di atas limit reference point (fully exploited). Dari hal tersebut, Farah menegaskan bahwa terdapat peluang investasi karena diperlukan peningkatan ekspor sebanyak 50.000 ton dengan nilai kurang lebih Rp4 triliun.

“Untuk mencapai angka tersebut, perlu dibentuknya strategi peningkatan nilai dan kualitas hasil tangkapan nelayan khususnya skala kecil,” imbuhnya.

Dalam mengusung pelabuhan new Ambon ini, Farah berpendapat perlu penyebaran sarana rantai dingin. Di antaranya 115 unit cold storage & UPI, 28 unit pabrik es, 18 unit mesin pencacah es, lima unit kendaraan berpendingin, tiga unit mobil bak terbuka, dan 13 unit deep chest freezer.

“Sebaran sarana rantai dingin, dari ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) bisa menyampaikan terkait bisnis atau logistik yang memerlukan regulasi atau sebagai tantangan dalam pengembangan pelabuhan ini,” pungkasnya. (red/validnews)