Pada Abad ke-15, kopi telah menyebar di jazirah Arab hingga mencapai Mekkah, Kota suci bagi umat Islam. Peziarah dan jamaah haji yang datang ke Mekkah dan Madina, turut mendorong semakin popularnya kopi di dunia. Seperti di Yaman, tempat-tempat minum kopi juga semakin banyak dibuka di wilayah Mekkah dan sekitarnya.
Keterkaitan kopi Islam tidak hanya sampai di situ saja. Pada Abad ke-10, Ibnu Sina meneliti efek dari kopi dalam perspektif medis melalui karyanya, al-Qanun fi al-Tibb. Ibnu Sina mengklasifikasi jenis-jenis kopi.
Menurutnya, kopi yang baik dan unggul mesti berwarna kuning dan bobotnya ringan. Adapun kopi berwarna putih dan cenderung berat adalah yang buruk.
Ibnu Sina mengakui beberapa manfaat meminum air kopi, semisal dapat mempertahankan kesehatan tubuh, membuat kulit menjadi bersih, dan mengurangi kelembapan kulit. Aroma kopi juga dinilainya menstimulus kesehatan tubuh dan pikiran.
Bagi kalangan sufi maupun ulama, kopi juga sangat dekat dengan mereka. Meminum kopi seolah menjadi tenaga ekstra untuk memperbanyak ibadah di malam hari. Mereka menjadi lebih kuat untuk berdzikir dan bermunajat pada Allah, dari tengah malam hingga waktu subuh.
Mengutip suaramuslim.net, disebutkan keberadaan kopi di Makkah juga sangatlah populer. Menurut sejarawan Arab, kopi bahkan disajikan di Masjidil Haram. Karenanya, jarang sekali ada acara zikir atau maulid tanpa adanya suguhan kopi.









