Di sinilah filsafat menjadi penting. Seorang filsuf tidak semata-mata hidup dari teori, kutipan dan perdebatan konseptual, tetapi dari keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap sudah selesai. Filsafat lahir dari kegelisahan, dari ketidakpuasan terhadap jawaban yang terlalu cepat, dan dari keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu yang tampak benar belum tentu benar. Dalam pengertian itu, seorang filsuf yang masuk ke dalam kekuasaan justru mendapatkan ujian yang lebih berat daripada ketika ia berada di luar kekuasaan. Sebab di luar, kritik adalah senjata; sementara di dalam, kritik berhadapan langsung dengan kepentingan, loyalitas, struktur dan kenyamanan.
Rocky tentu memahami paradoks itu. Ia tahu bahwa kekuasaan memiliki gravitasi yang kuat. Ia mampu menarik gagasan yang semula liar dan bebas menjadi lebih jinak, mengubah idealisme menjadi kompromi, bahkan membuat seseorang perlahan-lahan lupa bahwa kursi yang didudukinya bukanlah milik pribadi, melainkan bagian dari amanat publik. Karena itu, tantangan Rocky hari ini bukan lagi sekadar bagaimana mengkritik kekuasaan, melainkan bagaimana tetap menjadi Rocky ketika ia sudah berada di dalam rumah kekuasaan itu sendiri. Apakah “akal sehat” yang selama ini ia perjuangkan masih akan menjadi pisau yang tajam, atau justru berubah menjadi hiasan di atas meja yang terlalu nyaman?










