Ketika Superpower Masuk “Perangkap Hormuz”

oleh -936 views

Oleh: Iwan Wiranataatmadja, Senior Fellow, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI); pengamat internasional, kolumnis

Kehadiran USS Tripoli di kawasan Timur Tengah bukan sekadar deployment militer rutin. Di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, pengerahan ini tampak seperti kesiapan operasi tempur dan memberi sinyal bahwa eskalasi bukan lagi skenario yang mustahil. Namun di Hormuz, kekuatan militer bukan satu-satunya variabel. Topografi, strategi asimetris, dan risiko ekonomi global menjadikan setiap langkah sebagai taruhan besar.

USS Tripoli adalah kapal serbu amfibi kelas *America* yang dalam praktiknya berfungsi sebagai “light aircraft carrier.” Kapal ini memiliki panjang sekitar 257 meter dengan displacement lebih dari 45.000 ton. Dalam konfigurasi tempur, ia mampu mengoperasikan 10–20 unit F-35B Lightning II—jet tempur stealth generasi kelima dengan kemampuan sensor fusion, network-centric warfare, precision strike, dan short take-off/vertical landing (STOVL).

Baca Juga  Aktivis Australia Tuduh Pasukan Israel Lakukan Kekerasan dan Pelecehan saat Misi Gaza

Selain itu, USS *Tripoli* membawa helikopter tempur AH-1Z Viper (dilengkapi rudal Hellfire dan roket 70mm), helikopter utilitas UH-1Y Venom, serta MV-22 Osprey dengan kecepatan jelajah lebih dari 500 km/jam untuk mobilitas vertikal jarak jauh. Kapal ini juga mengangkut sekitar 2.000–2.500 Marinir dalam satuan Marine Expeditionary Unit (MEU), lengkap dengan kendaraan tempur amfibi (AAV), artileri ringan, serta sistem HIMARS yang dapat diluncurkan dari platform darat maupun kapal.

No More Posts Available.

No more pages to load.