Begitu sadar akan kekhilafannya, Abu Lubabah berkata, “Demi Allah, kakiku belum selesai melangkah keluar dari tempat itu, aku sudah sadar bahwa aku telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Setelah kembali ke Madinah, Abu Lubabah tidak menemui Rasulullah SAW. Sebaliknya, ia langsung pergi ke Masjid Nabawi, lalu mengikat dirinya sendiri di tiang masjid sebagai bentuk penyesalan. Ia bersumpah:
“Demi Allah, aku tidak akan makan, minum, atau melepaskan diriku, hingga Allah menerima taubatku, atau aku mati di tempat ini.”
Abu Lubabah tetap terikat di masjid selama tujuh hari, tanpa makan dan hanya diberi minum sesekali oleh keluarganya di waktu malam. Tubuhnya menjadi lemah dan kurus.
Akhirnya, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW bahwa taubat Abu Lubabah telah diterima. Ketika kabar itu disampaikan, para sahabat ingin melepaskannya, namun Abu Lubabah berkata:
“Aku tidak akan melepaskan diri sampai Rasulullah SAW sendiri yang melepaskannya.”
Maka datanglah Rasulullah SAW ke masjid dan melepaskan ikatan tersebut dengan tangannya sendiri.
Setelah diampuni, Abu Lubabah ingin menyempurnakan taubatnya. Ia berkata:
“Sebagian dari sempurnanya taubatku adalah meninggalkan tempat terjadinya dosa dan meninggalkan hartaku.”









