Oleh: Hermanto, Wartawan senior Kulon Progo
Malam di Wates datang seperti biasa—perlahan, nyaris tak terasa. Tidak ada yang istimewa dari langitnya yang buram atau angin yang malas berhembus. Tapi bagi sebagian perempuan, di sinilah hari mereka benar-benar dimulai.
Mereka keluar saat kita tidur. Mereka pulang ketika kita baru menanak air untuk membuat kopi. Mereka tidak datang dari lembaga atau perusahaan. Mereka datang dari rumah-rumah kecil di pinggir dusun, membawa tubuh yang sudah terlalu lama lelah, dan semangat yang tidak pernah benar-benar tumbuh, tapi juga tak pernah benar-benar padam.
Sebutlah mereka kupu-kupu malam—kata yang terlalu manis untuk hidup yang getir. Mereka bukan makhluk malam karena pilihan, tetapi karena siang menolak mereka mentah-mentah. Siang punya standar yang tak bisa mereka penuhi: ijazah, jam kerja tetap, penampilan, pengalaman. Malam tidak banyak bertanya. Malam hanya menunggu.
⸻
Saya bertemu seorang dari mereka di sudut pertigaan kota, di bawah lampu jalan yang redup dan berdengung kecil seperti suara serangga patah sayap. Namanya Rini—atau ia memilih dipanggil begitu malam itu. Ia menunggu, bukan pelanggan, tapi keajaiban: bahwa seseorang datang dan memberinya cukup uang agar ia tak perlu keluar lagi besok malam.








