Banyak yang mengira bahwa kesalihan seorang istri sangat tergantung dari suaminya. Padahal dalam Islam, seorang perempuan bisa menjadi sosok salihah dan mendapatkan jaminan surga atas keimanan serta ketakwaannya sendiri, tanpa harus bergantung pada siapa suaminya.
Al-Qur’an Menjunjung Tinggi Martabat Perempuan
Islam sangat memuliakan perempuan, dan Al-Qur’an menjadi bukti nyata penghormatan itu. Salah satu bentuknya adalah penamaan Surah An-Nisa, yang berarti “para perempuan”. Dalam buku Allah Menyayangi Istri Salihah dan Menjanjikan Surga Untuknya karya Umi Azizah Khalil dijelaskan bahwa perempuan memiliki posisi yang istimewa di dalam Islam.
Laki-laki dan perempuan diciptakan sejajar, dengan peran mulia sebagai khalifah di muka bumi (QS Al-An’am [6]: 165). Keduanya sama-sama bertanggung jawab untuk beribadah dan menaati Allah SWT (QS Az-Zariyat [51]: 50). Tak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal tanggung jawab spiritual dan moral.
Penciptaan perempuan sendiri merupakan bagian dari kehendak Allah untuk menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan (QS Az-Zariyat [51]: 49). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan perempuan bukan sekadar pelengkap, apalagi hanya untuk memenuhi kepentingan laki-laki. Pandangan semacam itu hanyalah warisan budaya sebelum datangnya Islam, sebagaimana ditegaskan oleh cendekiawan Muslim, Prof. Nasaruddin Umar.









