Suatu hari, ketika Julaibib tengah berada di selasar Masjid Nabawi, Rasulullah SAW menghampirinya dan dengan suara penuh kelembutan bertanya, “Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?”
Sapaan penuh kasih itu seakan menghangatkan hati Julaibib yang lama gersang. Dengan senyum yang tulus, Julaibib menjawab, “Siapakah yang akan sudi menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah?”
Tak ada nada putus asa ataupun keluhan dalam ucapannya, hanya ketundukan yang penuh keikhlasan kepada takdir.
Menikah dengan Wanita Cantik
Dikisahkan dalam buku Jangan Berhenti Mencoba karya Nasrul Yung, Pada hari-hari berikutnya, Julaibib kembali bertemu dengan Rasulullah SAW di Masjid Nabawi.
Dengan kelembutan yang sama, Nabi bertanya, “Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?” Pertanyaan itu diulang selama tiga hari berturut-turut dan setiap kali pula Julaibib menjawab dengan senyuman pasrah yang penuh keikhlasan.
Di hari ketiga, Rasulullah SAW menggenggam tangan Julaibib dan membawanya ke rumah seorang tokoh Anshar.
Setibanya di sana, Nabi menyampaikan maksud kedatangannya, “Aku ingin menikahkan putri kalian.” Mendengar hal itu, sang tuan rumah berseri-seri penuh suka cita, mengira bahwa Rasulullah sendiri yang akan menjadi menantunya.
“Alangkah indah dan berkahnya ini,” ucapnya penuh harap. Namun, kegembiraan itu seketika berubah saat Rasulullah melanjutkan, “Bukan untukku. Aku hendak meminang putri kalian untuk Julaibib.”











