Selain orang-orang yang ada di dalam kapal, tidak ada yang selamat dari bencana banjir tersebut. Tatkala banjir telah reda, kapal Nabi Nuh AS kemudian terdampar dan berlabuh di sebuah bukit tinggi yang disebut Al-Judy. Hal ini sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an surah Hud ayat 40,
وَقِيْلَ يٰٓاَرْضُ ابْلَعِيْ مَاۤءَكِ وَيٰسَمَاۤءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَاۤءُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “Difirmankan (oleh Allah), “Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit, berhentilah (mencurahkan hujan).” Air pun disurutkan dan urusan (pembinasaan para pendurhaka) pun diselesaikan dan (kapal itu pun) berlabuh di atas gunung Judiy, dan dikatakan, “Kebinasaanlah bagi kaum yang zalim.” (QS Hud: 44)
Wallahu a’lam.
sumber: detikhikmah









