Kisah ‘Song for Gaza’ dan Kiprah Pengarangnya

oleh -56 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Belakangan ini lagu We Will Not Go Down (Song for Gaza) kian sering terdengar seiring serangan bertubi-tubi Israel terhadap wilayah Palestina yang menewaskan ratusan warga sipil.

Tembang karya Michael Heart itu menceritakan semangat rakyat Palestina di Gaza dalam menghadapi Israel.

Siapakah Michael Heart yang menulis lagu kondang itu?

Nama asli musikus yang kini bermukim di Los Angeles itu ialah Annas Allaf.

“Michael Heart adalah nama panggungku,” ujarnya dalam wawancara dengan majalah internasional Viva.

Allaf getol menulis lagu bertema kebebasan dan hak asasi manusia.

Musikus kelahiran Damaskus, Suriah, itu merilis Song for Gaza yang kondang seantero jagat pada Januari 2009.

Kurang dari sebulan sejak diunggah ke YouTube, tembang itu sudah ditonton 8 juta kali.

Menurut Michael, rakyat Palestina telah diserang berkali-kali dan hanya menerima sedikit bantuan dari negara lain.

Baca Juga  Personil Brimob Polda Maluku Laksanakan Patroli Objek Wisata di Pantai Natsepa

Namun, kata Allaf, rakyat Palestina pantang menyerah dan tak peduli seberapa keras mereka diserang.

“Mereka adalah inspirasi untuk pesan lagu itu,” tuturnya.

Salah satu lirik dalam lagu itu sebagai berikut;

You can burn up our mosques and our homes and our schools, but our spirit will never die

We will not go down, In Gaza tonight.

Artinya; ialah kalian bisa membakar masjid-masjid kami, rumah-rumah kami, dan sekolah-sekolah kami, tetapi semangat kami tak akan pernah mati.

Kami tak akan tunduk, di Gaza malam ini.

Allaf juga merilis album bertitel Freedom (tentang Arab Spring) pada 2011.

Dua tahun kemudian atau pada 2013, putra diplomat Suriah itu merilis album bertitel What About Us (Song for Syria).

Sebagai putra ambasador, Allaf menghabiskan sebagian besar masa pertumbuhannya di Jenewa dan New York ketimbang di negeri asalnya.

Baca Juga  Peringati Hari Juang TNI AD Ke-74, Korem 152/Babullah Ziarah Di TMP Banau

Dia juga pernah tinggal Wina, Austria, ketika ayahnya menjadi salah satu direktur jenderal badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

“Saya tinggal di Suriah hanya setahun atau lebih, ketika masih sangat belia,” tuturnya.

Tinggal di berbagai negeri membuat Allaf mengenal beragam genre musik. Awalnya, dia terpesona pada karya-karya penyanyi Prancis, antara lain, Michel Sardou dan Claude Francois.

Allaf juga menyeriusi musik klasik. “Ketika Anda tinggal di Wina, sangat mustahil tidak terpapar musik klasik dan saya menikmatinya,” katanya.

Musikus yang juga pengaransemen itu juga menggemari musik flamenco dari Andalusia, Spanyol.

Saat remaja, Allaf dikenalkan pada karya-karya Paco de Lucia dan Camaron de la Isla. “Saya terpikat,” ujarnya.

Minat Allaf juga pada musik rock. Dia mulai mengenal hard rock ketika keluarganya hijrah ke AS.

Baca Juga  Tersandung Hukum, AH Masih Dijatahi Proyek Pemkab Buru

“Saya masih mendengarkan band-band rock klasik seperti AC/DC,” katanya.

Namun, musik Arabia juga punya pengaruh kuat pada Allaf. Dalam Song for Gaza, dia memasukkan petikan gambus ke bagian interlude.

Instrumen rebana juga masuk dalam Song for Gaza. “Tentu, di rumah musik Arab selalu mengalun,” katanya.

Sebagai musikus yang sudah go international, Allaf telah bekerja sama dengan puluhan pesohor.

Dalam situs pribadinya tertulis sederet musikus dan penyanyi yang pernah berkolaborasi dengannya, antara lain, Phil Collins, Natalie Cole, Toto, Earth Wind and Fire, David Foster, Jessica Simpson, dan Ice Cube.

Dalam beberapa kesempatan terpisah, Allaf juga tampil di panggung bersama Bryan Adams dan Shania Twain. Memang, Allaf penggemar Bryan Adams.

(red/jpnn)

No More Posts Available.

No more pages to load.