Roda Tua yang Terus Berputar, Kisah Becak yang Kian Menghilang dari Labuha

oleh -48 views
Dulu, becak adalah denyut nadi kota. Roda-rodanya berputar dari pagi hingga senja, mengantar warga ke pasar, pelabuhan, sekolah, hingga kantor-kantor pemerintahan. Di zamannya, becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga tumpuan hidup bagi banyak keluarga.

Porostimur.com, Labuha – Siang itu, panas menggantung di atas Kota Labuha, ibu kota Kabupaten Halmahera Selatan. Jalanan dipenuhi lalu-lalang sepeda motor dan kendaraan pribadi yang saling mendahului. Di antara deru mesin dan klakson yang bersahutan, sebuah becak tua melintas pelan—nyaris tak terdengar, nyaris tak terlihat.

Ia seperti potongan masa lalu yang terselip di tengah hiruk-pikuk masa kini.

Dulu, becak adalah denyut nadi kota. Roda-rodanya berputar dari pagi hingga senja, mengantar warga ke pasar, pelabuhan, sekolah, hingga kantor-kantor pemerintahan. Di zamannya, becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan juga tumpuan hidup bagi banyak keluarga.

Namun waktu bergerak cepat. Bersamaan dengan masuknya sepeda motor dan menjamurnya ojek, pelan-pelan becak tersingkir dari jalanan. Ia kalah cepat, kalah praktis, dan perlahan kehilangan tempat di hati masyarakat yang kian terburu-buru.

Kini, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Baca Juga  Ditahan Tanjung Verde, Pelatih Spanyol Akui Timnya Kurang Bugar dan Tumpul di Depan Gawang

Di Antara Kenangan dan Kebutuhan

Sebagian besar pengemudi becak yang tersisa adalah mereka yang telah puluhan tahun mengayuh di jalanan Labuha. Usia mereka tak lagi muda, tenaga tak lagi sekuat dulu, tapi mereka tetap bertahan.

Salah satunya, seorang tukang becak yang ditemui di sekitar pusat kota. Wajahnya dipahat garis-garis usia, namun semangatnya belum benar-benar padam.

No More Posts Available.

No more pages to load.