Kisah ‘Song for Gaza’ dan Kiprah Pengarangnya

oleh -135 views

We will not go down, In Gaza tonight.

Artinya; ialah kalian bisa membakar masjid-masjid kami, rumah-rumah kami, dan sekolah-sekolah kami, tetapi semangat kami tak akan pernah mati.

Kami tak akan tunduk, di Gaza malam ini.

Allaf juga merilis album bertitel Freedom (tentang Arab Spring) pada 2011.

Dua tahun kemudian atau pada 2013, putra diplomat Suriah itu merilis album bertitel What About Us (Song for Syria).

Sebagai putra ambasador, Allaf menghabiskan sebagian besar masa pertumbuhannya di Jenewa dan New York ketimbang di negeri asalnya.

Dia juga pernah tinggal Wina, Austria, ketika ayahnya menjadi salah satu direktur jenderal badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

“Saya tinggal di Suriah hanya setahun atau lebih, ketika masih sangat belia,” tuturnya.

Baca Juga  Tuding Gubernur Malut Sebar Hoaks Soal Gaji PPPK, Muslim Arbi Desak Klarifikasi Terbuka

Tinggal di berbagai negeri membuat Allaf mengenal beragam genre musik. Awalnya, dia terpesona pada karya-karya penyanyi Prancis, antara lain, Michel Sardou dan Claude Francois.

Allaf juga menyeriusi musik klasik. “Ketika Anda tinggal di Wina, sangat mustahil tidak terpapar musik klasik dan saya menikmatinya,” katanya.

Musikus yang juga pengaransemen itu juga menggemari musik flamenco dari Andalusia, Spanyol.

Saat remaja, Allaf dikenalkan pada karya-karya Paco de Lucia dan Camaron de la Isla. “Saya terpikat,” ujarnya.