Itu sebabnya para sejarawan Kristen yang obyektif sependapat; mereka sangat memuji keadilan Umar, toleransi dan rasa kasih sayangnya. Betapa kagum dan hormat mereka terhadap sikapnya di Baitulmukadas serta kejujurannya dalam membuat persetujuan dengan penguasa setempat.
Keobyektifan mereka tidak berubah seperti yang disebutkan bahwa suatu hari Umar berpidato di hadapan kaum Muslimin di Baitul muqadas, dan dalam pidatonya itu ia mengutip firman Allah:
“Barangsiapa mendapat petunjuk Allah, itulah petunjuk yang benar; tetapi barang siapa dibiarkan tersesat, maka tak ada pelindung dan pem bimbing baginya ke jalan yang benar.” (Qur’an, 18 :17).
Seorang pendeta Nasrani yang juga hadir ketika itu berdiri dan berkata: Allah tidak akan menyesatkan siapa pun. Setelah diulangnya kata-kata itu, Umar berkata kepada orang-orang di sekitarnya: “Perhatikan, kalau dia masih mengulang kata-katanya, penggallah lehernya.”
Dengan peringatan ini pendeta tersebut diam. Mereka yang memang bersikap obyektif dan jujur itu tetap sepakat, bahwa bukan karena sumber itu tak mempunyai dasar yang kuat, tetapi andaikata itu pun benar tidaklah akan merusak sikap toleransi dan keadilan Umar.
Ketika itu Umar bukan sedang dalam status perdebatan ideologis dengan pendeta tersebut, melainkan sebagai orang yang sedang berpidato mengingatkan umat Islam tentang keimanan dan jangan saling berbantah, tiba-tiba pendeta itu memotong pidatonya dan mengulanginya lagi – suatu pelanggaran terhadap tata tertib yang dapat menimbulkan dugaan bahwa pelakunya sengaja hendak merusak kewibawaan Amirulmukminin.











