Ujian Kekayaan dan Perubahan Sikap Tsa’labah
Di fase kekayaannya itu, Tsa’labah lupa dengan janjinya kepada Rasulullah SAW. Dia tidak mau membayar zakat serta mengeluarkan infak dan bersedekah di jalan Allah SWT.
Sifat bakhil (pelit) telah tertanam dalam hati Tsa’labah. Dia mengira dengan mengeluarkan zakat dan berinfak di jalan Allah SWT akan mengurangi hartanya yang telah didapat dengan susah payah.
Berulang kali Rasulullah SAW mengutus orang untuk mengambil zakat dari Tsa’labah, tetapi dia selalu menghindar. Akibat sifat bakhilnya itu, bisnis Tsa’labah perlahan mengalami kemunduran hingga akhirnya hancur.
Kehancuran Harta dan Peringatan dalam Al-Qur’an
Kisah ini pun diabadikan dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 75-76 sebagai peringatan bagi umat Islam tentang bahaya mengingkari janji kepada Allah dan sifat kikir setelah diberi kenikmatan.
وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
Artinya: “Di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Dia memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan benar-benar bersedekah dan niscaya kami benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.’ Akan tetapi, ketika Allah menganugerahkan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling seraya menjadi penentang (kebenaran).”











