“Alasan efisiensi anggaran untuk menghilangkan tradisi ini tidak masuk akal. Dari dulu tradisi ini tetap berjalan meski dalam keterbatasan,” tegasnya.
Peran Adat dan Suara Masyarakat
Tetelepta meminta para pemangku adat, termasuk raja-raja negeri dan Ketua Latupati Pulau Saparua, untuk berdiri bersama masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.
Ia menekankan bahwa dalam urusan adat dan budaya, suara masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dibandingkan keputusan administratif pemerintah.
“Suara masyarakat lebih tinggi dalam persoalan adat. Jangan sampai keputusan yang diambil justru menghilangkan identitas budaya masyarakat itu sendiri,” katanya.
Momentum Pendidikan, Sosial, dan Pariwisata
KNPI Maluku juga mendorong agar peringatan Hari Pattimura tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi dikembangkan melalui pendekatan pendidikan, sosial, dan pariwisata.
Melalui pendekatan pendidikan, generasi muda diharapkan semakin memahami nilai perjuangan dan sejarah. Dari sisi sosial, momentum ini dapat mempererat persaudaraan orang basudara di Maluku. Sementara dari sektor pariwisata, tradisi obor Pattimura dinilai memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya.
“Momentum Hari Pattimura harus menjadi sarana pendidikan sejarah, memperkuat nilai sosial, sekaligus mendorong pariwisata budaya di Maluku,” ujarnya.









