Oktober 2022, Harita Nickel meresmikan beroperasinya smelter RKEF kedua dengan kapasitas produksi 780.000 ton feronikel per tahun. Total 3 pabrik pengolahan dan pemurnian bijih nikel dioperasikan oleh perusahaan milik anak bangsa ini dengan mengaplikasikan dua teknologi yang berbeda.
Langkah Harita Nickel tidak berhenti disitu. Tujuh bulan kemudian, persisnya akhir Mei 2023 Harita Nickel berhasil melanjutkan hilirisasi dengan memurnikan MHP menjadi produk akhir, nikel sulfat (NiSO4). Keberhasilan produksi nikel sulfat ini lagi-lagi menjadikan Harita Nickel pionir di Indonesia dan menjadi pabrik nikel sulfat terbesar di dunia yang memiliki kapasitas produksi hingga 240 ribu ton per tahun. Catatan gemilang ini membuat Indonesia semakin diperhitungkan sebagai pemain utama dalam industri baterai kendaraan listrik global.
Kabar terbaru, smelter RKEF ketiga sedang dalam proses pembangunan dan diharapkan bisa resmi beroperasi pada tahun 2025. Tak hanya itu, refinery HPAL kedua juga bakal digencarkan bisa beroperasi pada pertengahan tahun depan.
Perkembangan pabrik yang cukup pesat dalam beberapa tahun ini juga tak menampik bahwa kebutuhan tenaga kerja yang lebih banyak. Tercatat hingga 30 Juni 2023 jumlah karyawan grup baik tetap maupun kontrak sebanyak 9.248 pekerja, semakin melonjak dibandingkan akhir Maret lalu sebanyak 9.168 pekerja, dan akhir 2022 sebanyak 7.730 pekerja.




