Langit dan bumi, yang dulunya merupakan suatu kesatuan yang padu, kemudian dipisahkan oleh Allah SWT. Bumi, sebelum menjadi tempat hidup bagi berbagai makhluk, adalah sebuah satelit, yaitu benda angkasa yang mengitari matahari.
Satelit bumi yang semula sangat panas, karena berputar terus-menerus, akhirnya lama-kelamaan menjadi dingin dan berembun. Embun ini kemudian lama-kelamaan mengendap menjadi gumpalan air yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk hidup.
Mereka pun menyaksikan berbagai makhluk dan peristiwa satu demi satu secara nyata. Semua itu merupakan bukti yang jelas tentang adanya Maha Pencipta yang berbuat secara bebas dan Maha Kuasa atas segala yang dikehendaki-Nya. Dalam kitab Tafsir-nya, Ibnu Katsir mengutip pendapat dari ‘Athiyyah al-‘Aufi, ia berkata, “Dahulu, alam ini bersatu, tidak menurunkan hujan, lalu hujan pun turun. Dan dahulu alam ini bersatu, tidak menumbuhkan tanam-tanaman, lalu tumbuhlah tanam-tanaman.”
Ada pula pendapat Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Bahkan, dahulu langit dan bumi saling bersatu padu. Lalu, ketika langit diangkat dan bumi dihamparkan, maka itulah pemisahan keduanya yang disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya.” Al-Hasan dan Qatadah berkata, “Dahulu, keduanya menyatu, lalu keduanya dipisahkan dengan udara ini.”









