Semuanya berjalan tertib, tenang, bahkan indah. Shalat Id berlangsung tertib dalam waktu singkat. Tanpa drama. Tanpa larangan. Tanpa lapangan yang mendadak memiliki ideologi. Sebuah pelajaran sunyi bahwa kedewasaan bukan diukur dari kemampuan menyeragamkan, melainkan dari keberanian merawat perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat.
Di banyak negara, perbedaan hari raya bukanlah krisis. Ia hanya variasi. Seperti selera teh, ada yang manis, ada yang pahit, tetapi semuanya tetap diminum tanpa perlu pelarangan yang dibuat-buat. Bahkan di beberapa negara Timur Tengah, perbedaan itu diterima sebagai konsekuensi keluasan ijtihad.
Kita ini sering kali terlalu cemas pada perbedaan, seolah-olah ia ancaman, bukan kekayaan. Kita lebih nyaman dengan keseragaman, karena ia tidak menuntut kita untuk berpikir. Padahal, dalam sejarah Islam, perbedaan adalah bahan bakar peradaban, bukan sumber konflik.
Janji menghadirkan toleransi dalam kampanye akhirnya seperti brosur diskon. Ia tampak menarik di depan podium, tetapi syarat dan ketentuannya berlaku di belakang dengan huruf kecil. Ketika kekuasaan sudah di tangan, keberanian sering kali digantikan oleh kehati-hatian yang berlebihan. Bahkan ia berubah menjadi xonopobia, yang membuat sang walikota begitu takut tak terpilih lagi nanti.










