Lenso Putih di Ujung Rindu

oleh -84 Dilihat

“Memang beta punya kehidupan sendiri.”

“Su menikah?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

“Su punya kekasih?”

Aku tidak segera menjawab. Ada seorang perempuan yang pernah hadir dalam hidupku. Kami pernah merencanakan banyak hal, bahkan hampir sampai pada sebuah keputusan besar. Tetapi, pada akhirnya hubungan itu berhenti tanpa pertengkaran yang berarti.

” Pernah,” jawabku kemudian.

Ia tersenyum kecil. “Baguslah.”

“Bagus untuk siapa?”

Ia tidak menjawab.

Aku memandang laut. Tiba-tiba aku merasa lelah dengan percakapan yang sejak awal hanya berputar-putar di sekitar sesuatu yang tidak pernah berani kami sebutkan.

“Beta cuma mau tanya satu hal, Nona.”

Ia menoleh.

“Waktu ale pigi dolo, apakah ale memang berniat pulang?”

Baca Juga  Penyandang Disabilitas Berat di Dusun Olas SBB Diduga Luput dari Pendataan Bansos

Matanya berubah. Senyumnya hilang.

“Kenapa ale tanya begitu?”

“Karena tujuh tahun itu terlalu lama untuk seseorang yang katanya cuma pergi sementara.”

Ia menarik napas panjang.

“Beta seng pernah lupa ale.”

“Tapi ale juga seng pernah cari beta.”

“Beta takut.”

“Takut apa?”

Ia mengusap wajahnya. Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar lebih pelan.

“Takut kalau beta pulang, ale masih tunggu. Padahal beta seng tahu apakah beta bisa kembali seperti dolo.”

Aku terdiam.

“Jadi ale seng pulang karena takut beta masih mencintai ale?”

No More Posts Available.

No more pages to load.