Ia mengangguk kecil.
Aku tertawa pendek. Bukan karena lucu, tetapi karena baru kali itu aku mendengar alasan yang begitu menyakitkan dari seseorang yang pernah menjadi pusat seluruh harapanku.
“Lucu e,” kataku. “Beta tunggu karena masih cinta. Ale seng pulang karena takut beta masih cinta.”
Air matanya mulai menggenang.
“Maafkan beta.”
Aku mengalihkan pandangan.
“Beta seng pernah minta ale janji untuk tinggal selamanya. Beta cuma minta kalau ale su seng mau pulang, bilang saja. Jangan biarkan beta menunggu sesuatu yang ale sendiri seng yakin.”
Ia tidak menjawab.
Angin sore bertiup semakin kencang. Lenso putih di tangannya bergerak-gerak, seolah ingin terlepas dari genggaman.
Aku masih ingat hari keberangkatannya tujuh tahun lalu.
Waktu itu kami bertemu di pelabuhan. Ia akan berangkat mengikuti keluarganya ke luar daerah. Awalnya hanya beberapa bulan, katanya. Setelah urusan keluarga selesai, ia akan kembali.
Aku datang membawa selembar lenso putih yang kubeli dari sebuah toko kecil dekat pasar.
“Untuk ale,” kataku.
Ia menerimanya sambil tersenyum.
“Kenapa lenso?”
“Supaya ale ingat beta.”
“Kalau beta lupa?”
“Beta datang cari ale.”
Ia tertawa.
“Kalau begitu, ale juga harus tunggu beta.”
Aku mengangguk.
Sebelum naik kapal, ia mengikatkan lenso itu di pergelangan tanganku.











