Aku menoleh.
“Lenso yang mana?”
“Lenso putih yang beta kasih waktu dolo.”
Aku mengangguk.
“Masih.”
Ia tampak terkejut.
“Masih ada?”
“Beta simpan di lemari.”
Ia tersenyum. Kali ini matanya benar-benar berkaca-kaca.
“Beta juga masih simpan yang ale kasih.”
Aku memandang lenso putih di tangannya.
“Jadi itu yang ale bawa dari sana?”
“Iya.”
“Kenapa seng pernah ale buang?”
Ia menunduk cukup lama sebelum menjawab.
“Karena setiap kali beta mau buang, beta ingat hari terakhir katong bakudapa.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Beta pernah punya kesempatan untuk pulang,” lanjutnya. “Dua tahun lalu. Waktu itu mama su meninggal. Beta sebenarnya mau datang, tapi…” Ia menghentikan kalimatnya.
“Tapi apa?”
“Beta sudah punya keluarga.”
Aku menatapnya.
Untuk beberapa detik, suara ombak seperti menghilang dari pendengaranku.
“Su menikah?” tanyaku.
Ia mengangguk.
Aku berusaha tersenyum, meskipun ada sesuatu yang terasa jatuh jauh ke dalam dada.
“Selamat.”
“Terima kasih.”
“Su punya anak?”
Ia kembali mengangguk.
“Seorang perempuan. Umurnya empat tahun.”
Aku memandang laut. Entah mengapa, aku justru merasa lega sekaligus sedih. Selama ini aku membayangkan berbagai kemungkinan tentang kepulangannya. Tidak pernah sekalipun aku membayangkan bahwa ia akan datang sebagai seorang istri dan seorang ibu.










