Lenso Putih di Ujung Rindu

oleh -84 Dilihat

“Terus, sekarang ale pulang sendiri?”

“Suamiku masih di luar. Anak beta ikut keluarga. Beta cuma pulang beberapa hari untuk urusan rumah peninggalan mama.”

Aku mengangguk.

“Jadi setelah ini ale kembali lagi?”

“Iya.”

Aku tersenyum kecil.

“Baguslah.”

Ia memandangku. “Ale marah?”

Aku menggeleng.

“Beta seng punya alasan untuk marah. Ale punya kehidupan. Beta juga punya kehidupan.”

“Tapi beta masih ingat ale.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Jangan bilang begitu kalau ale seng tahu apa yang harus beta lakukan dengan kalimat itu.”

Ia menangis. Tidak keras, hanya beberapa tetes air mata yang jatuh tanpa suara.

Aku ingin mengusapnya, seperti yang sering kulakukan dulu. Tetapi tanganku berhenti di atas lutut.

Baca Juga  JK dan Bodewin Satu Panggung Bahas Blok Masela, Ambon Disiapkan Jadi Penopang Investasi Energi Maluku

Ada batas yang sekarang harus kami hormati.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa mencintai seseorang juga berarti mengetahui kapan harus berhenti meminta tempat di kehidupannya.

Malam mulai turun. Lampu-lampu dermaga menyala satu per satu. Beberapa nelayan kembali dari laut, sementara pengunjung yang tadi ramai duduk di sekitar pantai mulai beranjak pulang.

Kami masih duduk di bangku yang sama.

“Beta cuma mau tanya satu hal lagi,” katanya.

“Apa?”

“Kalau waktu bisa diputar kembali, apakah ale tetap pilih beta?”

No More Posts Available.

No more pages to load.